Anak Nelayan Cilincing Belajar di Tengah Panas yang Mencekik

Jumat, 28 Agustus 2026

65

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber : Eksklusif

Akhir pekan tiba, semangat anak-anak nelayan di Kampung Nelayan Kolong Jembatan Cilincing, Jakarta Utara tidak surut. Pukul 10 pagi (2/8), mereka mulai berdatangan ke Rumah Belajar Merah Putih, mengisi meja-meja yang masih kosong dan mulai merapikan alat tulis yang dibawa.

Di ruangan berukuran 4x5 meter itu, belasan anak duduk berdempetan. Hanya mengandalkan dua kipas angin yang berputar pelan, padahal suhu udara di ruangan kelas makin panas dan debu kendaraan mulai merangsek masuk. Sesekali anak-anak mengusap keringat, tetapi mereka tetap mengikuti pelajaran menghitung angka 40 hingga 51 dan mendengarkan storytelling dalam bahasa Inggris.

Setelah pembelajaran berakhir, anak-anak bergegas pulang ke rumah, tak seperti biasanya. Hal ini karena cuaca panas yang menyengat kulit dan debu kendaraan yang beterbangan membuat mereka lebih memilih pulang ke rumah daripada bermain bersama teman. Kondisi ini dikeluhkan oleh tenaga pengajar, relawan, dan anak-anak.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat fenomena panas ekstrem ini disebabkan karena naiknya suhu permukaan global mencapai 1,14°C periode Januari–Juni, di atas rata-rata abad ke-20 sebesar 13,5°C yang menjadikannya terpanas ketiga dalam 177 tahun terakhir.

Hawa panas gerus konsentrasi belajar anak

Save the Children mencatat setidaknya 242 juta siswa di 85 negara kesulitan dalam mengakses pendidikan akibat panas ekstrem, di mana banyak sekolah yang ditutup. Hambatan turut dialami anak-anak di Indonesia, melansir Laporan UNICEF (2024) setidaknya ada 15 juta anak terpapar gelombang panas yang berimplikasi pada menurunnya konsentrasi dan kinerja belajar anak. Anak-anak di pedesaan alami putus sekolah karena pendapatan orang tua mereka menurun akibat gagal panen, sedangkan di perkotaan hanya 1% yang mengalami persoalan serupa.

Meski begitu, banyak sekolah dan fasilitas pendukung di perkotaan yang rusak sehingga memaksa sebagian orang tua menarik anak mereka dari sekolah. Data UNICEF menunjukkan ada 54.080 sekolah dasar dan menengah berlokasi di kawasan banjir dan 15.597 berlokasi di daerah rawan longsor. Sepanjang tahun 2009–2018, sekolah yang terdampak bencana terkait iklim sebanyak 50.666 sekolah.

Hambatan tersebut dirasakan juga oleh pengajar dan relawan di Rumbel Merah Putih. Pengajar Taman Baca Qur’an anak dan lansia, Suryani, hawa panas yang dirasakan dua minggu terakhir membuat anak-anak tampak lebih kelelahan. Relawan dokumentasi, Taji, menambahkan jika panas yang merangkap di ruangan kelas membuat anak-anak sulit berkonsentrasi dan mudah mengantuk. Kondisi itu makin diperparah, tambahnya, oleh debu kendaraan berat yang melintas di jembatan sehingga berpotensi mengganggu pernapasan anak-anak saat belajar di ruangan kelas.

“Debu dari mobil dan truk kontainer langsung masuk ke sini, jadi anak-anak gampang batuk-batuk,” ujar Taji saat diwawancarai pada Minggu (2/8).

Keluhan serupa disampaikan oleh Raya (9), siswa kelas 2, yang mengatakan ruangan kelas terasa semakin pengap. Ia kerap merasa haus di tengah pembelajaran sehingga beberapa kali mengambil air putih di dapur kelas. Sementara itu, Fani (11) mengaku sulit berkonsentrasi karena merasa gerah akibat suhu panas di dalam ruangan.

Meski siang itu suhu udara mencapai 33°C, masih ada beberapa anak yang memilih untuk bermain. Azka (12) dan Dimas (13), misalnya, duduk mengutak-atik mainan plastiknya di tengah terik matahari dan debu kendaraan yang beterbangan. Bagi Azka, panas justru lebih terasa ketika berada di rumahnya yang letaknya dekat jembatan Cilincing.

“Panas, karena rumah saya depannya langsung jembatan. Itu dari jembatan kalau debunya berterbangan langsung masuk ke depan rumah,” kata Azka, pelajar kelas 1 SMP saat ditemui ketika sedang bermain pada Minggu (2/8).

Manager Humanitarian Plan Internasional, Enos Ndapareda, menaruh perhatian pada dampak cuaca ekstrem terhadap akses pendidikan bagi anak. Ia mengatakan, cuaca panas ekstrem tidak hanya memengaruhi aktivitas keseharian anak, juga menurunkan konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan dalam memecahkan masalah, yang pada akhirnya berdampak pada prestasi akademik mereka.

“Memang ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa temperatur yang tinggi itu menurunkan konsentrasi, menurunkan daya ingat, menurunkan kemampuan pemecahan masalah, dan menurunkan prestasi akademik. Kenapa? Karena ruang terlalu panas,” ujar Enos Ndapareda.

Langkah Rumbel Merah Putih untuk mengembalikan konsentrasi dan mencegah dehidrasi para pada anak-anak akibat cuaca panas dilakukan dengan cara sederhana. Para pengajar dan relawan selalu menyediakan air putih yang cukup sekaligus mengingatkan anak-anak untuk menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan dan muka setelah selesai beraktivitas.

“Minum air yang lebih banyak. Selalu sedia air buat diminum. Terus jangan lupa jaga kebersihan, cuci muka. Soalnya debu-debu itu kan pasti mengandung banyak kotoran. Takutnya masuk ke dalam tubuh, atau pas makan lupa cuci tangan, nanti masuk ke mulut,” kata Taji.

Resiko kesehatan mulai mengancam anak-anak

Merujuk laporan UNICEF (2021), sekitar 600 juta anak di dunia dalam kondisi rentan terhadap penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti malaria dan demam berdarah. Sementara itu, Indonesia masuk peringkat ke-46 sebagai negara paling berisiko. Risiko tersebut. Tak hanya malaria dan demam berdarah, tetapi anak-anak juga rentan terkena penyakit ginjal karena cuaca panas ekstrem.

Suhu udara di Jakarta sendiri menunjukkan tren peningkatan. Merujuk Data Lingkungan Hidup DKI Jakarta, peningkatan suhu hingga ±0,17–0,24°C terjadi di kawasan terbangun yang menandakan adanya penguatan fenomena urban heat Island sebagai bagian dari perubahan kondisi iklim di

Jakarta. Peningkatan suhu akibat krisis iklim diperparah oleh paparan polusi udara dan kejadian banjir meningkatkan risiko kesehatan bagi masyarakat, termasuk tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang mencapai sekitar 997.320 kasus.

Saat liputan berlangsung, merujuk data real time AccuWeather, suhu udara di kawasan Cilincing mencapai 33°C dengan suhu yang dirasakan tubuh melebihi dari itu. Hawa panas ini kembali menjadi perhatian suryani, di mana ia menyaksikan sejumlah anak didiknya yang mengikuti kegiatan belajar mengalami flu, batuk, dan demam.

“Ada yang flu, batuk, pilek, bahkan demam. Cuacanya juga panas," ucap Suryani, saat diwawancarai pada Minggu (2/8).

Selain suryani, Taji, menyampaikan hal yang serupa. Beberapa minggu terakhir, katanya, persentase kehadiran anak-anak untuk belajar di akhir pekan menurun. Ia mengindikasikan ketidakhadiran anak-anak disebabkan karena kondisi kesehatan mereka yang memburuk imbas cuaca panas, termasuk membuat pernapasan anak-anak jadi terganggu.

“Kalau sakit, beberapa jadi tidak masuk. Awalnya bisa 40–50 orang, tapi tinggal kurang dari 30 karena kepanasan dan banyak debu yang mengganggu pernapasan,” ujarnya.

Di tengah perbincangan dengan Taji, salah satu orang tua murid, Uun, turut menceritakan kondisi yang dialami anak-anaknya. Ibu rumah tangga tersebut mengatakan anak-anaknya belakangan ini lebih sering mengalami batuk, pilek, hingga jatuh sakit. Panas yang terasa menyengat di kulit membuatnya kerap memandikan anak-anaknya untuk membantu mengurangi rasa gerah. Namun, menurut Uun, anak-anaknya justru kerap jatuh sakit setelahnya. Ketika anaknya sakit, minyak gosok dan obat yang dibelinya di toko sembako menjadi pilihan pertama Uun untuk mengobati anaknya.

Kerentanan berlapis anak perempuan di keluarga nelayan

Saat krisis iklim terjadi, anak-anak pesisir yang membayar harga mahal akibat dampak yang dihasilkan, khususnya anak perempuan. Di Cilincing sendiri, mayoritas masyarakat bekerja sebagai nelayan, pengupas kerang hijau, dan ibu rumah tangga. Pendapatan mereka sehari-hari tidak cukup, diperparah dengan dampak krisis iklim yang mengintai.

Merujuk dari WALHI Indonesia, Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mengatakan pada Januari 2026, cuaca ekstrem memengaruhi 95% nelayan di 350 desa pesisir, 63% diantaranya menghentikan melaut akibat angin kencang dan gelombang tinggi. Selain itu, pendapatan nelayan turun hingga 50% dari Rp400.000–Rp650.000 menjadi Rp200.000–Rp400.000 per hari.

Akibatnya, tingkat kemiskinan di sektor perikanan masih tergolong tinggi. Melansir WALHI Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS, 2022) mencatat terdapat 17,74 juta penduduk miskin di wilayah pesisir, dengan 3,9 juta jiwa diantaranya masuk kategori miskin ekstrem. Angka tersebut setara dengan 68 persen dari total penduduk miskin di Indonesia yang mencapai 26,16 juta jiwa pada September.

Kondisi kemiskinan ekstrem di komunitas pesisir, menurut Enos Ndapareda, dapat memengaruhi akses terhadap pendidikan. Dalam situasi sulit ini, keluarga nelayan cenderung mengambil keputusan untuk mengurangi pengeluaran pendidikan dan anak perempuan menjadi salah satu pihak yang rentan dikorbankan.

“Anak perempuan yang disuruh tinggal di rumah dulu. “Laki-laki, kamu pergi sekolah,” sementara anak perempuan disuruh di rumah. Karena mereka berpikir, “Ya sudah, nanti juga anak perempuan akan menikah, akan dinikahkan dengan orang lain,” ucapnya.

Persoalan ini pun tidak berhenti pada terbatasnya akses pendidikan, tetapi juga beririsan dengan masih maraknya pernikahan dini yang terjadi di Cilincing. Melansir dari Rumah KitaB, sepanjang 2021–2023, terdapat setidaknya 12-20 kasus perkawinan anak. Kasus terbanyak tercatat di Keluruhan Kalibaru, dengan jumlah mencapai 25 kasus. Dispensasi pernikahan juga marak dilakukan, berdasarkan Badan Peradilan Agama(Badilag, 2024) tercatat ada 38 kasus dispensasi nikah di Jakarta Utara, tertinggi kedua setelah Jakarta Utara dengan 50 kasus.

Kerentanan tersebut tidak muncul semata-mata karena tekanan ekonomi, tetapi juga diperkuat oleh norma gender. Menurut Enos, dampak krisis iklim antara anak laki-laki dan anak perempuan tidaklah sama. Anak perempuan seringkali menanggung beban yang lebih besar karena kentalnya budaya patriarki sehingga urusan domestik lebih dibebankan kepada mereka.

Kondisi tersebut sejalan dengan temuan Komnas Perempuan dan UNFPA (2023) bahwa perempuan dan anak perempuan menanggung beban berlapis ketika krisis iklim terjadi. Dalam masyarakat patriarkis, tanggung jawab domestik dan perawatan keluarga yang dibebankan kepada mereka dapat semakin berat ketika terjadi kelangkaan sumber daya dan kemiskinan. Elaine Enarson, melansir dari TRACKSDGs, juga menjelaskan bahwa kemiskinan, ketimpangan akses terhadap sumber daya, dan norma gender turut menentukan tingkat kerentanan seseorang dalam menghadapi bencana dan krisis iklim.

Memperkuat perlindungan, dari sekolah hingga komunitas

Merespons dampak krisis iklim yang kian buruk, penguatan kapasitas adaptasi perlu dilakukan dari tingkat nasional hingga komunitas. Menurut Enos Ndapareda, sistem penanggulangan bencana yang telah tersedia perlu diterjemahkan hingga tingkat provinsi, kabupaten, desa, dan komunitas, dengan mempertimbangkan kondisi serta risiko yang berbeda di tiap wilayah.

Approach-nya tidak bisa one fit for all,” ujarnya. Penguatan itu perlu memastikan kebutuhan kelompok yang terabaikan dalam kebijakan, termasuk anak perempuan dan anak dengan disabilitas. Sistem peringatan dini, misalnya, harus dapat diakses anak dengan hambatan penglihatan maupun pendengaran.

Di sekolah, kesiapan menghadapi krisis iklim juga bergantung pada kondisi bangunan. Menurut Enos Ndapareda, standar desain dan ventilasi sekolah sudah diatur, tetapi tantangannya adalah memastikan penerapannya di lapangan. Sementara di komunitas pesisir, kapasitas adaptasi perlu diperkuat melalui diversifikasi pendapatan dan perlindungan sosial yang sensitif gender dengan melibatkan anak dan perempuan.

Penulis : Daffa Ulhaq

Editor : -

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait