Arus Mudik Meningkat, Skema One Way Nasional Diperluas hingga Salatiga
Minggu, 22 Maret 2026
Pengunggah: Redaksi
Lonjakan arus mudik Lebaran 2026 mendorong otoritas lalu lintas memperluas rekayasa jalan berupa sistem satu arah (one way) nasional. Pada Rabu (18/3/2026) pukul 16.35 WIB, skema ini resmi diperpanjang hingga KM 459 Salatiga, Jawa Tengah, sebagai respons atas meningkatnya volume kendaraan yang melintas di jalur tol Trans Jawa.
Data Pos Pengamanan Gerbang Tol Kalikangkung menunjukkan intensitas lalu lintas yang cukup tinggi. Dalam rentang waktu pukul 15.00–16.00 WIB, tercatat sebanyak 4.201 kendaraan melintas per jam. Sementara itu, total kendaraan yang melintasi gerbang tersebut sejak pukul 06.00 hingga 16.00 WIB mencapai 32.621 unit—angka yang mencerminkan puncak pergerakan pemudik mulai terbentuk sejak siang hari.
Direktur Utama PT Jasa Marga Semarang Batang, Nasrullah, menyatakan bahwa perluasan one way ini merupakan kelanjutan dari kebijakan sebelumnya. Awalnya, skema one way nasional diberlakukan dari KM 70 Gerbang Tol Cikampek Utama hingga KM 414 Gerbang Tol Kalikangkung. Seiring peningkatan arus kendaraan, rekayasa lalu lintas diperpanjang dari Kalikangkung hingga KM 459 Salatiga.
Langkah ini bukan sekadar teknis, melainkan bentuk intervensi untuk menjaga kelancaran distribusi kendaraan menuju wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Posisi strategis Gerbang Tol Kalikangkung sebagai simpul utama menuju Tol Dalam Kota Semarang, serta konektivitas ke arah Bawen, Salatiga, hingga Yogyakarta dan Solo, menjadikannya titik krusial dalam pengendalian arus mudik.
Namun demikian, efektivitas kebijakan ini tidak hanya bergantung pada rekayasa jalur, tetapi juga pada kedisiplinan pemudik. Kepadatan tidak hanya terjadi di ruas jalan, melainkan juga berpotensi menumpuk di area istirahat. Untuk itu, pengelola tol menyiapkan empat rest area di ruas Batang–Semarang, yakni di KM 360 B, KM 379 A, KM 389 B, dan KM 391 A.
Meski fasilitas telah disiapkan, pemudik diimbau untuk membatasi waktu istirahat maksimal 30 menit. Imbauan ini bukan tanpa alasan. Dalam kondisi volume kendaraan tinggi, rest area kerap menjadi bottleneck baru yang justru memperlambat laju perjalanan secara keseluruhan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa manajemen arus mudik tidak bisa hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi juga perilaku pengguna jalan. Tanpa kesadaran kolektif untuk tertib dan efisien, kebijakan seperti one way berisiko hanya menjadi solusi sementara yang tidak menyentuh akar persoalan.
Dengan tren pergerakan yang terus meningkat, evaluasi real-time dan koordinasi lintas pihak menjadi kunci. Perluasan one way hingga Salatiga menjadi sinyal bahwa arus mudik tahun ini bergerak dinamis—dan membutuhkan respons yang tidak kalah adaptif.
Penulis : Radhwa Larasati Tetuko
Editor : Tiara De Silvanita
Tags