Nasi atau Ketupat, Mana Lebih Berpengaruh pada Berat Badan? Ini Penjelasan Dokter
Minggu, 22 Maret 2026
Pengunggah: Redaksi
Ketupat telah lama menjadi ikon kuliner yang melekat dalam perayaan Lebaran di Indonesia. Disajikan bersama opor ayam, rendang, hingga sambal goreng ati, ketupat kerap dianggap “lebih berat” dibanding nasi. Namun, benarkah ketupat lebih berpengaruh terhadap kenaikan berat badan?
Secara bahan dasar, nasi dan ketupat berasal dari sumber yang sama, yakni beras. Perbedaannya terletak pada proses pengolahan. Nasi dimasak dengan cara direbus bersama air hingga matang, sementara ketupat dipadatkan dalam anyaman daun kelapa (janur) dan dimasak lebih lama hingga menghasilkan tekstur yang lebih padat.
Praktisi kesehatan, dr M Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K, menegaskan bahwa dari sisi kandungan gizi, tidak terdapat perbedaan signifikan antara nasi dan ketupat. Keduanya memiliki jumlah kalori dan karbohidrat yang relatif setara.
“Kalau dilihat dari total kalori dan kandungan karbohidratnya, sebenarnya sama saja,” ujarnya.
Pandangan berbeda disampaikan oleh dr Oki Yonatan Oentiono, SpGK, yang menyoroti aspek pengolahan. Menurutnya, ketupat termasuk dalam kategori makanan olahan karena melalui proses pemanasan lebih lama dibanding nasi. Hal ini, dalam beberapa kasus, dapat memengaruhi respons tubuh dalam mencerna makanan.
Meski demikian, kedua dokter sepakat bahwa faktor utama yang memengaruhi kenaikan berat badan bukan semata pada pilihan antara nasi atau ketupat. Justru, yang lebih menentukan adalah pola konsumsi secara keseluruhan—terutama jenis lauk yang menyertainya.
Dalam konteks Lebaran, baik nasi maupun ketupat hampir selalu disajikan dengan hidangan tinggi lemak dan santan. Kombinasi inilah yang berpotensi meningkatkan asupan kalori secara signifikan.
Dengan demikian, perdebatan mengenai mana yang lebih “menggemukkan” antara nasi dan ketupat menjadi kurang relevan jika tidak melihat konteks konsumsi secara menyeluruh. Kunci utamanya tetap terletak pada keseimbangan menu dan pengendalian porsi.
Alih-alih menghindari salah satu, masyarakat justru diimbau untuk lebih bijak dalam mengatur asupan, terutama saat momen perayaan yang identik dengan hidangan berlimpah.
Penulis : Radhwa Larasati Tetuko
Editor : Tiara De Silvanita
Tags