Di Balik Laporan Keuangan KCIC: Kenapa Whoosh Belum Juga Menuai Keuntungan?

Kamis, 20 November 2025

2280

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber: tvonenews.com

Laporan keuangan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memang mulai menunjukkan warna hijau, tetapi manajemen belum bisa bernapas lega sepenuhnya. Di balik tren operasional yang mulai membaik, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung Whoosh masih bergulat dengan persoalan fundamental yaitu arus kas yang belum sehat. 

Isu ini kembali muncul saat Komisi VI DPR melakukan kunjungan kerja ke Stasiun Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jum’at (7/11/25). Dalam forum itu, manajemen KCIC memaparkan kinerjanya hingga September 2025, termasuk capaian laba perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) yang sudah positif. 

Namun, anggota Komisi VI DPR, Rieke Diah Pitaloka, mengingatkan bahwa beban keuangan besar membuat perusahaan seolah “berdiri di ujung tanduk”. Menurut Rieke, KCIC sebenarnya mampu menutup biaya operasional tahunan sebesar Rp1,4–1,5 triliun. Tetapi perusahaan tetap merugi karena harus menanggung utang jumbo sekitar Rp118 triliun dengan bunga mencapai Rp2 triliun per tahun. Beban inilah yang sejak awal menjadi batu besar di kaki perusahaan.

Rieke menilai masalahnya bermula dari desain proyek yang tidak disusun dengan perencanaan matang. Pembengkakan biaya pada fase pembangunan membuat struktur pembiayaan tidak ideal dan ruang efisiensi semakin sempit. Bahkan, proyeksi keuangan KCIC menunjukkan defisit kas hingga Rp22,3 triliun dalam 10 tahun ke depan. 

“Dengan skema seperti ini, perusahaan bisa terus merugi meski kereta sudah beroperasi penuh,” ujar Rieke Diah Pitaloka yang dikutip dari tempo.co

Masalah belum berhenti di sana. Tingkat okupansi Whoosh hingga kini masih belum memenuhi ekspektasi. Sejak beroperasi komersial pada Oktober 2023 hingga 31 Oktober 2025, total penumpang baru mencapai 12,25 juta. Angka harian rata-rata berkisar di 18.000–20.000 penumpang, jauh di bawah target awal lebih dari 30.000 penumpang per hari. Puncak keterisian tertinggi terjadi pada Juni 2025 dengan 26.770 penumpang per hari.

Sony Sulaksono Wibowo, dosen transportasi Institut Teknologi Bandung, menilai akar persoalan ini berada pada sisi permintaan. Menurut dia, rute Jakarta–Bandung sejak awal adalah pasar jenuh. Keputusan mengubah desain proyek dari Jakarta–Surabaya menjadi Jakarta–Bandung memperkecil potensi penumpang, sementara investasinya telanjur besar.

Ditambah lagi, perjalanan ke Bandung punya banyak alternatif, seperti kereta Argo Parahyangan, travel, hingga bis. Perbedaan waktunya pun tidak selalu signifikan karena stasiun Whoosh berada di pinggir kota, membuat penumpang harus melanjutkan perjalanan menuju pusat kota menggunakan kereta pengumpan.

Meski demikian, Whoosh tetap menawarkan nilai lebih. Moda ini unggul dalam ketepatan waktu dan kepastian perjalanan yang tak dipengaruhi kemacetan maupun cuaca buruk.

KCIC pun tak tinggal diam. Juru bicara KCIC, Eva Chairunnisa, menyebut perusahaan kini fokus menggenjot pendapatan. Hingga pertengahan November 2025, total penumpang sudah meningkat menjadi 12,4 juta. Di momen tertentu seperti akhir pekan atau musim liburan, okupansi di jam padat bahkan mencapai 98–100%.

Untuk mendorong pertumbuhan penumpang, KCIC mengembangkan berbagai strategi di bisnis inti (railway business), mulai dari dynamic pricing, frequent wisher card, paket rombongan, edutrip, hingga promo musiman seperti Whoosh Hero Deal. Perusahaan juga memperluas manfaat melalui program Boarding Pass True Value, yang menggandeng berbagai destinasi wisata dan kuliner.

Di luar bisnis inti, KCIC agresif membangun sumber pendapatan tambahan dengan naming rights, penyewaan area ritel, periklanan, pengelolaan parkir, penjualan merchandise resmi, kerja sama perbankan, hingga rencana pengembangan properti di sekitar stasiun.

Menurut Toto Pranoto, Managing Director Lembaga Manajemen FEB UI, potensi besar justru ada pada pendapatan non-penumpang. Konsep transit-oriented development (TOD) dan pemanfaatan lahan komersial di sekitar stasiun—seperti Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar—dinilai bisa menjadi sumber pemasukan yang signifikan dan mempercepat titik impas proyek.

Pada akhirnya, meski laporan operasional Whoosh mulai menunjukkan surplus, jalan menuju profit sejati masih panjang. Tingginya beban finansial, kompetisi moda transportasi, dan tantangan struktural menjadi batu uji yang harus dihadapi KCIC. Namun dengan strategi pendapatan yang lebih agresif dan optimalisasi aset non-kereta, perusahaan berharap mampu menemukan jalur cepat menuju keberlanjutan. Whoosh memang melaju kencang di rel. Tetapi untuk urusan laba, perjalanan ini masih perlu waktu, kecermatan, dan konsistensi strategi agar akhirnya tiba di stasiun keuntungan.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait