Dukungan Trash Ranger Indonesia Kepada Nusabin Hadirkan Teknologi Pintar untuk Kelola Sampah

Senin, 18 Agustus 2025

3785

Pengunggah: ANINDYA MEYLA KARTIKA SARI

gambar-utama
Foto: Teknologi Nusabin (Dok/Pri).

Community – Bayangkan kalau tempat sampah di sekitar kita bisa memilah, memadatkan, bahkan memantau kapasitasnya secara otomatis.

Hal ini telah diwujudkan oleh startup lokal bernama Nusabin dengan konsep futuristik dan inovatif.

Sebagaimana diketahui, Indonesia masih berkutat dengan persoalan sampah. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK mencatat timbulan sampah nasional pada 2024 mencapai 34,6 juta ton per tahun.

Sayangnya, hanya 47,1% yang terkelola, sementara sisanya, sekitar 52,9%, masih tercecer tanpa penanganan.

Problem utamanya ada pada minimnya pemilahan sejak dari rumah, truk pengangkutan yang terbatas, hingga sistem pengelolaan yang belum optimal. Situasi ini membuat solusi teknologi jadi kebutuhan  bersama

Di tengah masalah itu, Nusabin (Nusantara Bin) mencoba memberi jawaban. Startup ini menghadirkan teknologi pengelolaan sampah pintar berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).

Produk Nusabin antara lain:

Srikandi: tempat sampah pintar yang bisa memilah organik dan anorganik dengan akurasi 95%, lalu mengubah sampah organik menjadi kompos hanya dalam 7 jam.

Nakula: bak sampah tahan cuaca dengan sensor ultrasonik untuk memantau kapasitas secara real-time, dilengkapi GPS Tracking dan aplikasi Sadewa untuk rute pengangkutan.

Arjuna: mampu memilah lima jenis sampah, dari elektronik hingga organik, dengan sensor gerak dan sistem feeder otomatis yang higienis.

Gatotkaca: pemadat sampah tenaga surya yang bisa mengurangi volume hingga 80% dan menekan frekuensi pengangkutan 70%.

Palapa: alat yang mengubah minyak jelantah menjadi nilai ekonomi lewat sistem smart verification, filtrasi cepat, dan reward digital berbasis kontribusi.

Gerakan ini pun mendapat dukungan dari Trash Ranger Indonesia, komunitas lingkungan yang aktif mengedukasi masyarakat soal sampah, aksi bersih-bersih, hingga penguatan komunitas.

Bagi mereka, teknologi seperti Nusabin penting untuk mendorong perubahan budaya sejak dari hulu.

Lebih lanjut, Nusabin resmi memperkenalkan teknologinya pada Pondok Indah Eco-Living Festival (PIEL Fest), 16–17 Agustus 2025. Ajang ini selain menjadi pameran, juga menjadi wadah mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dan publik dengan solusi konkret.

Melihat langsung Srikandi memilah sampah atau Gatotkaca memadatkan hingga lima kali lipat membuat publik bisa membayangkan, bahwa pengelolaan sampah bisa berubah dari sekadar dikumpulkan menjadi dan dikelola dengan cerdas.

Sampah akan terus ada selama manusia masih makan, minum, dan berbelanja. Karena itu, pengelolaan tak bisa berhenti di regulasi saja. Diperlukan kolaborasi teknologi, budaya masyarakat, dan dukungan semua pihak agar sampah tidak sekadar jadi masalah, melainkan bisa memberi nilai baru.

 

(Ani/Far)

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait