Mamuju dan Tantangan Radiasi Alam, Laporan PBB Jadi Alarm Kewaspadaan

Kamis, 05 Maret 2026

965

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Ilustrasi Kota Mamuju, Sulawesi Barat

Wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah tercantum dalam laporan terbaru United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR) 2024. Dalam Annex B yang dipublikasikan sebagai bagian dari daftar Latest Publications per 12 Februari 2026, Mamuju dikategorikan sebagai High Natural Background Radiation Areas (HNBRA) — wilayah dengan tingkat radiasi latar belakang alami yang tinggi.
Temuan ini bukan sekadar angka statistik. Laporan tersebut menyebut estimasi dosis efektif tahunan radiasi alam yang diterima masyarakat Mamuju mencapai sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun. Sebagai perbandingan, rata-rata global hanya berada di kisaran 3,0 mSv per tahun. Artinya, paparan radiasi di Mamuju hampir sembilan kali lebih tinggi dibandingkan rerata dunia.

Perwakilan Indonesia untuk UNSCEAR sekaligus Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) BRIN, Nur Rahmah Hidayati, menjelaskan bahwa tingginya paparan ini terutama dipicu oleh kandungan uranium dan thorium dalam tanah. Konsentrasi isotop uranium-238 dan thorium-232 di sejumlah titik bahkan tercatat mencapai ratusan hingga lebih dari 1.000 becquerel per kilogram (Bq/kg), jauh melampaui rata-rata global.

Tak hanya dari tanah, paparan juga berasal dari radon di udara terbuka. Kadar radon di Mamuju dilaporkan berkisar antara 22 hingga 760 Bq/m³, dengan nilai rata-rata sekitar 290 Bq/m³ — angka yang tergolong sangat tinggi dan menjadi kontributor utama terhadap dosis radiasi tahunan masyarakat.

Namun di balik tingginya angka tersebut, terdapat dinamika lokal yang menarik. Karakteristik bangunan tradisional dengan ventilasi alami dinilai membantu menekan akumulasi radon di dalam rumah. Struktur rumah yang tidak tertutup rapat memungkinkan sirkulasi udara berjalan lebih baik, sehingga konsentrasi radon dalam ruangan tidak meningkat drastis dibandingkan lingkungan luar.

Fakta ini menghadirkan dua sisi sekaligus: kewaspadaan dan peluang ilmiah. Di satu sisi, laporan PBB menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan pusat untuk memastikan sistem pemantauan radiasi berjalan optimal serta edukasi publik diperkuat. Transparansi data dan komunikasi risiko menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak pada kepanikan, tetapi juga tidak lengah.

Di sisi lain, wilayah dengan radiasi alam tinggi seperti Mamuju memiliki nilai strategis bagi penelitian global. Studi jangka panjang di kawasan HNBRA dapat membantu ilmuwan memahami dampak paparan radiasi rendah terhadap kesehatan manusia, termasuk kemungkinan adaptasi biologis yang masih menjadi perdebatan di komunitas ilmiah internasional.

Tantangan ke depan bukan hanya soal angka paparan, tetapi bagaimana kebijakan publik meresponsnya secara proporsional. Penguatan riset oleh BRIN, pengawasan lingkungan yang berkelanjutan, serta kolaborasi internasional perlu terus dikembangkan agar temuan ini menjadi dasar kebijakan berbasis sains.

Laporan UNSCEAR 2024 bukan vonis, melainkan pengingat. Mamuju kini berdiri di persimpangan antara risiko lingkungan dan laboratorium alam yang berharga bagi dunia. Kewaspadaan, literasi publik, dan tata kelola berbasis bukti menjadi fondasi agar tantangan radiasi alam ini dapat dikelola tanpa menimbulkan ketakutan yang berlebihan — sekaligus tanpa mengabaikan potensi dampaknya bagi generasi mendatang.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait