Untuk Kamu yang Turun ke Jalan, Kenali Bahaya Gas Air Mata dan Penanganannya

Jumat, 29 Agustus 2025

2780

Pengunggah: Anna Lutfhiah

gambar-utama
Ilustrasi: Keluarnya Gas Air Mata (Alodokter).

Education - Saat demonstrasi pecah, gas air mata sering kali jadi “senjata” pertama yang dikeluarkan aparat untuk mengurai massa.

Bentuknya kabut putih yang bikin mata perih, dada sesak, bahkan kulit terbakar. Tapi, sedikit yang tahu, gas air mata sejatinya bukan gas. Ia adalah bubuk kimia yang berubah jadi kabut saat ditembakkan.

Gas ini pertama kali ditemukan dua ilmuwan Amerika Serikat pada 1928, awalnya untuk kepentingan militer. Seiring berjalannya waktu, penggunaannya meluas, termasuk saat mengendalikan kerusuhan tahun 1959.

Dari situ, gas air mata makin sering dipakai aparat di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Bahan aktif yang umum digunakan adalah 2-chlorobenzalmalononitrile (CS). Namun, varian lain seperti CN, PS, CA, hingga CR juga masuk kategori gas air mata. Bahkan, semprotan merica yang populer dipakai untuk pertahanan diri termasuk dalam golongan ini.

Dampaknya terhadap tubuh tidak bisa dianggap sepele. Paparan singkat bisa bikin mata berair deras, pernapasan terganggu, hingga kulit iritasi. Jika terpapar lebih lama, risikonya bisa meningkat, terutama bagi mereka yang punya riwayat gangguan paru atau alergi tertentu.

Meski disebut “non-mematikan”, banyak pakar menilai penggunaan gas air mata harus diatur ketat. Pasalnya, efek jangka panjangnya masih jadi perdebatan, apalagi jika digunakan di ruang sempit atau mengenai kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Gas air mata mungkin diciptakan hampir seabad lalu, tapi perdebatan tentang keamanan dan etika penggunaannya masih terasa sangat relevan hari ini.

 

(Ann/Far)

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait