Gaya Hidup Zero Food Waste di Cimahi Jadi Upaya Tekan Timbulan Sampah

Sabtu, 25 April 2026

155

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira mendorong masyarakat di wilayahnya menerapkan gaya hidup zero food waste.

Upaya menekan laju timbulan sampah di Kota Cimahi mulai diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam mengelola pangan. Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira, mendorong penerapan gaya hidup zero food waste sebagai langkah konkret mengurangi produksi sampah harian yang mencapai 250 ton.
Dorongan tersebut tidak sekadar wacana. Melalui kegiatan “Masak Hepi” yang diinisiasi komunitas Hepi+ bersama Hareudang Bandung, edukasi pengelolaan pangan dilakukan langsung di tengah masyarakat. Bertempat di kawasan Cimahi Tengah, kegiatan ini memadukan praktik memasak dengan pemahaman tentang siklus limbah makanan—dari dapur hingga potensi pemanfaatannya kembali.

Adhitia menilai, persoalan sampah di Cimahi tidak bisa hanya diselesaikan dari hilir, seperti pengelolaan di tempat pembuangan akhir. Justru, akar persoalan berada di kebiasaan konsumsi rumah tangga yang kerap menghasilkan limbah makanan dalam jumlah besar. Padahal, banyak bahan pangan yang masih layak konsumsi dan memiliki nilai gizi tinggi, tetapi berakhir sebagai sampah.

Dalam kegiatan tersebut, warga diajak memahami konsep dapur tanpa limbah (zero waste kitchen). Sisa bahan makanan yang biasanya dibuang, seperti tulang ayam atau air cucian beras, diperkenalkan sebagai sumber alternatif pupuk organik. Pendekatan ini tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga memperluas perspektif masyarakat terhadap nilai ekonomi dan ekologis limbah pangan.

Namun demikian, pendekatan ini menyisakan catatan kritis. Edukasi berbasis komunitas sering kali bersifat sporadis dan belum tentu berkelanjutan tanpa dukungan sistem yang kuat. Tanpa intervensi kebijakan yang lebih terstruktur—misalnya insentif pengurangan sampah rumah tangga atau penguatan distribusi pangan—gerakan zero food waste berpotensi berhenti sebagai kampanye simbolik.

Founder Hareudang Bandung, Yoga Fauzan Renardi, menekankan bahwa perubahan perilaku menjadi kunci utama. Ia mendorong masyarakat untuk mengubah pola belanja dengan mengutamakan kebutuhan dan menghabiskan stok yang ada sebelum membeli bahan baru. Menurutnya, pengelolaan pangan yang bijak harus dimulai dari kesadaran individu, bukan sekadar intervensi pemerintah.

Lebih jauh, konsep ini juga berkaitan dengan efisiensi sistem pangan secara keseluruhan. Bahan pangan yang tidak terserap pasar—seperti labu siam yang kerap terbuang saat harga turun—justru dapat dimanfaatkan menjadi sumber gizi alternatif bagi masyarakat. Jika dikelola dengan baik, pendekatan ini tidak hanya menekan sampah, tetapi juga berkontribusi pada isu ketahanan pangan dan pencegahan stunting.

Di sisi lain, ambisi Pemerintah Kota Cimahi untuk mengurangi sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti menuntut konsistensi kebijakan lintas sektor. Tanpa integrasi antara edukasi masyarakat, sistem distribusi pangan, dan pengelolaan limbah organik, target zero waste berisiko sulit tercapai.

Gerakan zero food waste di Cimahi menjadi langkah awal yang patut diapresiasi, tetapi juga perlu dikawal agar tidak berhenti pada seremoni. Tantangannya adalah memastikan bahwa kesadaran kolektif yang dibangun hari ini mampu bertransformasi menjadi kebiasaan jangka panjang—bukan hanya di tingkat rumah tangga, tetapi juga dalam sistem pangan kota secara menyeluruh.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait