Limbah Disulap Jadi Pupuk Organik Cair Ramah Lingkungan Berbasis Nano Abu Sawit

Kamis, 26 Juni 2025

1805

Pengunggah: Desta Putriyani

gambar-utama
Foto: Dosen UMY (Suara Muhammadiyah).

Inspirational – Siapa sangka, urin kelinci dan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) bisa jadi kombinasi ajaib untuk menyuburkan tanah dan menyelamatkan bumi.

Gatot Supangkat, dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), membuktikan bahwa inovasi hijau bisa lahir dari hal-hal yang sering dianggap sepele.

Gatot dan timnya berhasil mengembangkan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar urin kelinci yang diperkaya dengan nanopartikel dari abu TKKS. Formulasi ini tak hanya ramah lingkungan, tapi juga punya efek signifikan terhadap produktivitas tanaman hortikultura seperti cabai, bayam, hingga selada.

“Visi kami adalah membangun pertanian sehat dan berkelanjutan. Kami memilih pendekatan organik yang diberi sentuhan teknologi,” ujar Gatot saat ditemui di Laboratorium Produksi Agroteknologi UMY, Sabtu (21/6/2025).

Kenapa urin kelinci? Dari berbagai jenis limbah ternak, cairan ini terbukti paling efektif sebagai bahan dasar pupuk organik. Namun inovasinya tak berhenti di situ. Gatot menambahkan nano abu TKKS, limbah industri sawit yang dibakar di atas 800°C selama enam jam, lalu diolah menjadi partikel superhalus menggunakan metode ball milling.

“Ukuran nanopartikel memungkinkan unsur hara seperti kalium diserap lebih cepat oleh tanaman. Ini penting untuk memperkuat dinding sel dan meningkatkan daya tahan terhadap penyakit,” jelasnya.

Dari serangkaian uji coba, formulasi terbaik ditemukan saat nano abu ditambahkan sebanyak 3 persen ke dalam pupuk cair. Hasilnya? Panen lebih banyak, kualitas tanah tetap terjaga, dan yang paling penting tidak ada residu kimia berbahaya yang tertinggal.

Lebih dari sekadar penelitian kampus, inovasi ini telah resmi dipatenkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

“Semua bahan berasal dari limbah. Kami ingin membuktikan bahwa dari yang dianggap sampah, bisa lahir solusi cerdas dan berdampak nyata untuk masyarakat dan lingkungan,” tutup Gatot.

Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa pertanian masa depan tak harus bergantung pada bahan kimia sintetis. Dengan pendekatan organik dan teknologi nano, mimpi menuju pertanian berkelanjutan dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) bukan lagi sekadar wacana, tapi sudah berjalan nyata dari Yogyakarta.

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait