Refleksi Hari Kartini, Menelusuri Perjuangan Raden Ajeng Kartini untuk Kesetaraan

Selasa, 21 April 2026

460

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Foto Raden Ajeng Kartini

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali mengenang sosok Raden Ajeng Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Namun, di tengah seremoni tahunan yang kerap diwarnai kebaya dan lomba-lomba simbolik, pertanyaan mendasar justru mengemuka: sejauh mana semangat perjuangan Kartini benar-benar dihidupkan dalam realitas hari ini?
Kartini bukan sekadar sosok historis. Lahir di Jepara pada 1879, ia tumbuh dalam sistem feodal yang membatasi ruang gerak perempuan. Pengalaman dipingit di usia muda tidak membuatnya tunduk, melainkan melahirkan kegelisahan intelektual yang kemudian dituangkan dalam surat-suratnya. Melalui korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa, Kartini menyuarakan kritik terhadap ketimpangan gender, keterbelakangan pendidikan perempuan, hingga ketidakadilan sosial yang lebih luas.

Pemikiran Kartini yang terangkum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang bukan hanya refleksi personal, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap struktur yang mengekang. Ia menolak anggapan bahwa perempuan cukup berada di ruang domestik. Baginya, pendidikan adalah pintu utama menuju kebebasan dan kemajuan—gagasan yang pada zamannya tergolong berani dan melampaui batas norma sosial.

Namun, refleksi Hari Kartini tidak bisa berhenti pada romantisme sejarah. Realitas hari ini menunjukkan bahwa persoalan kesetaraan belum sepenuhnya tuntas. Akses pendidikan memang semakin terbuka, tetapi kesenjangan masih terasa, terutama di wilayah terpencil. Dalam dunia kerja, perempuan masih menghadapi disparitas upah, keterbatasan akses kepemimpinan, hingga beban ganda antara ranah domestik dan profesional.

Ironisnya, peringatan Hari Kartini kerap terjebak pada simbolisme yang dangkal. Alih-alih menjadi ruang refleksi kritis, ia berubah menjadi seremoni budaya tanpa substansi. Padahal, jika menelusuri gagasan Kartini secara utuh, perjuangannya tidak pernah berhenti pada simbol, melainkan tindakan nyata untuk mengubah struktur sosial.

Warisan Kartini sejatinya telah membuka jalan. Dari sektor pemerintahan hingga media, perempuan Indonesia mulai menunjukkan kiprahnya. Sosok seperti Susi Pudjiastuti, Tri Rismaharini, hingga Najwa Shihab menjadi bukti bahwa perempuan mampu hadir sebagai pengambil keputusan dan agen perubahan. Namun, keberhasilan individu ini belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi kolektif perempuan Indonesia.

Di sisi lain, tantangan baru juga muncul di era digital. Kekerasan berbasis gender kini merambah ruang siber, sementara stereotip lama bertransformasi dalam bentuk yang lebih halus namun tetap membatasi. Dalam konteks ini, semangat Kartini justru semakin relevan—bukan hanya untuk diperjuangkan, tetapi juga untuk ditafsirkan ulang sesuai zaman.

Kartini pernah bertanya, “Apakah gunanya pendidikan jika tidak dapat membawa kebahagiaan bagi orang lain?” Pertanyaan ini menjadi kritik tajam bagi masyarakat modern: apakah kemajuan yang dicapai hari ini benar-benar inklusif, atau justru meninggalkan kelompok tertentu di belakang?

Refleksi Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk menggeser fokus dari perayaan ke perenungan. Kesetaraan bukan sekadar wacana, melainkan proses panjang yang membutuhkan keberanian, kebijakan yang berpihak, serta kesadaran kolektif. Pendidikan perempuan harus terus diperluas, ruang aman perlu diperkuat, dan diskriminasi harus dilawan, baik dalam bentuk terang-terangan maupun terselubung.

Jejak Raden Ajeng Kartini mengajarkan bahwa perubahan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kegelisahan yang diolah menjadi gerakan. Hari Kartini, dengan demikian, bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menagih komitmen masa kini.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait