Ika Arista, Pengrajin Keris Perempuan dari Kampung Keris Aeng Tongtong Madura
Senin, 23 Juni 2025
Pengunggah: Muh. Taupiq
Inspirational - Di balik denting palu dan panasnya bara, Ika Arista menjadi satu-satunya perempuan di Madura yang berhasil mematahkan batasan tradisi.
Ia memang perempuan biasa di Desa Aeng Tongtong, Sumenep. Tapi dia satu-satunya perempuan yang menjadi mpunya.
Di desa yang dikenal sebagai sentra keris terbesar di Indonesia dan bahkan diakui UNESCO, mayoritas perajin keris adalah laki-laki.
Dari sekitar 600 mpu, hanya segelintir yang perempuan. Dan Ika menjadi salah satu pengecualian yang mencuri perhatian bukan hanya karena gendernya, tapi juga karena konsistensinya menjaga nilai budaya dalam setiap bilah keris yang ia tempa.
“Bagi saya, bikin keris itu bukan soal uang lagi. Ini sudah masuk ke ranah spiritual dan sejarah bangsa,” kata Ika saat ditemui di rumahnya.
Perjalanan Ika bermula sejak kecil. Ia tumbuh di tengah dengung besi dan debu ukiran, melihat langsung bagaimana keris dibuat dari awal, memilih besi, menempa, mengukir, hingga membuat warangka atau sebuah sarung keris.
Saat menepuh pendidikan Sekolah Dasar (SD), ia mulai iseng mencoba membuat sendiri. Dari yang awalnya sekadar cari uang jajan, kini menjadi jalan hidup yang ia tempuh sepenuh hati.
Kebanyakan perempuan di kampung keris hanya mengerjakan bagian finishing, seperti mengukir atau mengamplas. Tapi tidak dengan Ika. Ia menguasai proses dari awal hingga akhir.
Ini tak hanya karena ketertarikannya di dunia seni budaya, tapi juga karena pemahaman mendalam terhadap filosofi dan nilai yang terkandung dalam setiap keris.
Pembuatan keris, bagi Ika, bukan sekadar urusan teknis. Ada ritual. Ada doa. Ada waktu-waktu khusus yang dipilih.
Bahkan besi pun harus dikalibrasi dulu di tempat-tempat tertentu. Setiap tahapan menyimpan makna, termasuk saat keris selesai dan dilakukan prosesi jamasan atau “memandikan” pusaka.
“Jamasan itu bukan sekadar membersihkan fisik keris. Ini spiritual. Bentuk penghormatan kepada pusaka, kepada leluhur, kepada tradisi yang kita rawat,” ucapnya.
Ika adalah wajah baru dari tradisi nenek moyang. Ia membuktikan bahwa menjaga warisan budaya bukan hanya tugas para pria atau lembaga pemerintah.
Perempuan dari timur Pulau Garam itu, bisa menjadi ikon bahwa budaya tak pernah usang selama masih ada yang menyalakannya.
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
Inspirasi - Fathiyyah Azizah, atau yang akrab disapa Fatheh, merupakan seorang duta komunitas Youtz Comhub yang m...
InspirationalJumat, 07 Juni 2024
Baru-baru ini, ParagonCorp menyabet penghargaan tingkat Asia Tenggara dalam ajang Conference of ASEAN Federation ...
InspirationalJumat, 07 November 2025
Inspiratif - Sobat Youtz tidak asing lagi dong dengan nama Bagas Satrio Wicaksono? Salah satu peserta program aca...
InspirationalRabu, 14 Agustus 2024
Inspiratif — Sebanyak 60 artis, influencer, dan figur publik tampil kompak mengenakan baju bodo, busana tradisi...
InspirationalJumat, 19 September 2025
Inspirational - Sobat Youtz, pada Youtz Talk #21, Andreina Shavira, CEO-Founder @mageriin.id, Muslim Content Crea...
InspirationalKamis, 22 Agustus 2024
Inspirational - Fildzah Izzati Ishma, perempuan inspiratif, terpilih untuk mewakili Indonesia dalam program berge...
InspirationalKamis, 02 Januari 2025
Inspiratif - Di era digital ini, belajar bahasa Inggris menjadi kebutuhan, terutama bagi generasi muda yang ingin...
InspirationalSabtu, 21 September 2024
Inspirational - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, baru saja mengumumkan susunan Menteri dan Wakil Men...
InspirationalJumat, 25 Oktober 2024
Jakarta, 13 Juli 2026 — Sebagai puncak rangkaian Rukun Festival 2026, Nasaruddin Umar Office (NUO) menghadirkan...
InspirationalSelasa, 14 Juli 2026
Inspiratif - Dua bersaudara, Rizky dan Ridho, yang sebelumnya dikenal sebagai penyanyi, kini menjelma menjadi atl...
InspirationalKamis, 12 September 2024