Dari Hutan Purba Papua, Suara Konservasi Satwa Kian Mendesak
Selasa, 12 Mei 2026
Pengunggah: Redaksi
Hamparan hutan purba Papua selama ini dikenal sebagai salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia. Di balik rimbunnya pepohonan tropis, hidup satwa-satwa endemik yang tidak ditemukan di belahan bumi lain, mulai dari ekidna—mamalia bertelur yang dianggap keramat oleh sebagian masyarakat adat—hingga kanguru pohon, tikus babi, dan quoll, predator mungil yang keberadaannya semakin jarang terlihat.
Satwa-satwa tersebut bukan sekadar penghuni liar hutan Papua. Mereka memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kanguru pohon dan tikus babi membantu penyebaran biji yang mendukung regenerasi hutan, sementara quoll menjaga rantai makanan tetap stabil. Ekidna, dengan perilaku alaminya menggali tanah, turut membantu menjaga kesuburan ekosistem hutan hujan tropis.
Namun, kekayaan hayati itu kini berada di bawah tekanan besar. Laju ekspansi perkebunan sawit, pembukaan lahan untuk proyek pangan dan energi, hingga pembangunan infrastruktur berskala masif perlahan menggerus habitat alami satwa endemik Papua. Fragmentasi hutan yang terus terjadi membuat ruang hidup satwa semakin sempit dan meningkatkan risiko kepunahan.
Ancaman tidak berhenti pada kerusakan habitat. Praktik perdagangan dan penyelundupan satwa liar ilegal masih menjadi persoalan serius. Satwa eksotis Papua kerap diburu untuk diperjualbelikan, baik sebagai koleksi maupun komoditas bernilai tinggi di pasar gelap. Lemahnya pengawasan di sejumlah wilayah membuat rantai perdagangan ilegal ini sulit diputus sepenuhnya.
Di tengah situasi tersebut, suara konservasi semakin mendesak untuk diperkuat. Papua tidak hanya menyimpan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga menjadi rumah bagi ekosistem yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim global. Kehilangan satwa-satwa endemik Papua berarti kehilangan bagian penting dari identitas ekologis Indonesia sekaligus melemahkan daya tahan lingkungan di masa depan.
Perlindungan hutan Papua membutuhkan langkah nyata yang tidak berhenti pada slogan pembangunan berkelanjutan. Penegakan hukum terhadap perusakan hutan dan perdagangan satwa ilegal harus diperketat, sementara masyarakat adat perlu dilibatkan sebagai garda terdepan konservasi. Tanpa upaya serius dan konsisten, hutan purba Papua perlahan hanya akan menyisakan cerita tentang satwa langka yang pernah hidup di dalamnya.
Penulis : Radhwa Larasati Tetuko
Editor : Tiara De Silvanita
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
Museum Louvre di Paris, Prancis, mendadak ditutup pada Minggu (19/10/2025) setelah terjadi kasus perampokan terha...
NewsSelasa, 21 Oktober 2025
Kasus dugaan kekerasan seksual kembali mengguncang ruang akademik. Kali ini, sorotan tertuju pada lingkungan Faku...
NewsSelasa, 14 April 2026
News - Youtz Creative Incubator Batch 1 telah resmi ditutup pada Kamis (8/8/2024) secara online melalui Zoom Mee...
NewsJumat, 09 Agustus 2024
News - Serangan drone Ukraina menghantam kilang minyak di Andreapol, Rusia, pada Rabu (29/1/2025).Sebagaimana dik...
NewsKamis, 30 Januari 2025
News - Mantan Calon Legistlatif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sofyan, harus menghadapi hukuman mati usai ...
NewsSelasa, 21 Januari 2025
News - Pemerintah Indonesia menyatakan sikap tegas mengecam serangan militer Israel ke ibu kota Iran, Teheran, ya...
NewsJumat, 13 Juni 2025
News - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar akhirnya buka suara soal penggeledahan yang dilakukan Komisi Pembera...
NewsSenin, 18 Agustus 2025
News - Pelaku penembakan terhadap mantan Presiden dan sekaligus calon Presiden Amerika Serikat Donald Trump, akhi...
NewsMinggu, 14 Juli 2024
Kasus dugaan penggelapan dana sebesar Rp97 juta yang melibatkan seorang mahasiswi penerima Kartu Indonesia Pintar...
NewsSabtu, 20 Juni 2026
News – Ketua BEM UI 2023 yaitu Melki Sedek Huang saat ini sedang menjadi tersangka dalam dugaan kekerasan seksu...
NewsSabtu, 03 Februari 2024