Pelayanan di Bandara Belum Ramah Disabilitas, Indonesia Perlu Contoh Berlin

Rabu, 08 Januari 2025

4745

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Foto: Penyandang Disabilitas (ngopibareng).

Travel - Sejauh ini pelayanan di bandara di Indonesia belum dirasa nyaman bagi semua kalangan, termasuk bagi penyandang disabilitas.

Sebagaimana diketahui,  inklusifitas pelayanan bagi penyandang disabilitas di bandara Indonesia masih perlu ditingkatkan, terutama untuk mereka yang memiliki disabilitas tersembunyi atau hidden disability.

Hidden disability yang dimaksud seperti autisme dan gangguan mental, sering kali tidak terdeteksi sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih inklusif.

Hal tersebut disampaikan oleh Isti Anindya, Founder Peduli Autism Spectrum Disorder (ASD), yang membandingkan pengalamannya di Bandara Berlin dengan Bandara Soekarno-Hatta.

“Di Berlin, penumpang dengan hidden disability bisa menggunakan kartu Hidden Disability Sunflower (HDS), yang memberikan akses ke jalur khusus tanpa harus menjelaskan jenis disabilitas mereka,” ungkapnya kepada media.

HDS pertama kali diperkenalkan di Inggris pada 2016 dan kini diadopsi oleh banyak negara. Di Bandara Berlin, fasilitas bagi disabilitas fisik dan tersembunyi sangat memadai.

Tak hanya itu, jalur khusus dengan logo bunga matahari memandu penyandang disabilitas untuk mendapatkan layanan yang mereka butuhkan tanpa kehilangan privasi.

Selain itu, Transportasi umum Berlin juga dirancang ramah disabilitas. Bus dan kereta memiliki akses sejajar dengan trotoar atau peron, memungkinkan pengguna kursi roda atau alat bantu lainnya untuk naik tanpa kendala.

Lebih lanjut, menurut Isti, Bandara Soekarno-Hatta cukup baik dalam melayani penyandang disabilitas fisik. Namun, pelayanan untuk hidden disability masih kurang terstruktur.

Saat bepergian dengan anak autistik, ia harus menjelaskan kondisi anaknya kepada maskapai untuk mendapatkan layanan khusus. Meskipun maskapai merespons positif, stigma dari penumpang lain membuat pengalaman tersebut tidak nyaman.

“Ketidaktahuan masyarakat tentang hidden disability menjadi tantangan besar. Stigma dan kurangnya edukasi publik membuat perjalanan bagi penyandang disabilitas tersembunyi lebih sulit,” tambah Isti.

Isti menyarankan agar Indonesia segera mengadopsi program HDS.

“Dengan bergabung dalam program ini, bandara Indonesia dapat memberikan pelatihan khusus untuk staf dan menyediakan jalur inklusif yang menghormati privasi penyandang disabilitas,” tegasnya.

Edukasi publik dan integrasi fasilitas menjadi langkah awal penting untuk menghilangkan stigma.

Isti berharap Bandara Soekarno-Hatta dapat meniru inisiatif Berlin dalam menciptakan sistem transportasi yang inklusif.

Dengan memberikan fasilitas ramah disabilitas, baik untuk kebutuhan fisik maupun mental, Indonesia dapat membangun layanan transportasi yang menghormati setiap individu.

“Kenyamanan dan penghormatan terhadap privasi adalah kunci. Sudah saatnya Indonesia mengambil langkah konkret untuk menjadi negara yang lebih inklusif,” tutup Isti.

Dengan belajar dari Berlin, Indonesia dapat menciptakan pengalaman perjalanan yang inklusif dan nyaman bagi semua, tanpa terkecuali.

 

(Far/Tir)

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait