Temuan Fosil Laut Madura: Jejak Homo Erectus di Benua yang Hilang

Senin, 02 Juni 2025

2375

Pengunggah: Siti Nurhaliza

gambar-utama
Foto: Fosil yang ditemukan di Madura (National Geographic Indonesia).

Travel - Temuan mengejutkan datang dari dasar Selat Madura. Bukan kapal karam atau reruntuhan arkeologis biasa, melainkan potongan tulang manusia purba jenis Homo erectus dan ribuan fosil vertebrata yang jadi bukti bahwa Laut Jawa dulunya bukan sekadar lautan, tapi daratan luas bernama Sundaland.

Penemuan ini bukan hasil ekspedisi besar-besaran, melainkan “bonus tak terduga” dari proyek reklamasi pelabuhan di Gresik pada 2015. Proyek itu mengeruk jutaan meter kubik pasir dari perairan utara Pelabuhan Tanjung Perak, dan siapa sangka, pasir-pasir itu menyimpan sejarah yang terkubur lebih dari seratus ribu tahun.

Dari Reklamasi Jadi Revolusi Arkeologi

Adalah Harold Berghuis, konsultan geologi yang kala itu tengah menempuh studi doktoral di Universitas Leiden, yang pertama kali menyadari bahwa ada sesuatu yang tak biasa dari butiran pasir reklamasi itu. Dengan kejelian mata dan pengetahuan arkeologi, ia menemukan fragmen-fragmen tulang yang ternyata milik Homo erectus, manusia purba yang selama ini diyakini hanya menghuni dataran tinggi Jawa Tengah.

Sejak itu, penelusuran berlanjut. Hingga 2024, ditemukan lebih dari 6.300 fosil, termasuk 1.212 fragmen yang telah teridentifikasi berasal dari Homo erectus dan 36 spesies vertebrata lainnya, mulai dari kerbau purba, kura-kura, komodo, hingga gajah. Semuanya terkubur di dasar laut sedalam 20–50 meter, di bekas lembah sungai purba Bengawan Solo.

Menyelami Jejak Sundaland

Penemuan ini membuka tabir baru sejarah kehidupan manusia di Nusantara. Dahulu, saat permukaan laut global turun karena zaman es, wilayah yang kini disebut Laut Jawa adalah daratan luas bernama Sundaland. Di situlah Homo erectus hidup berdampingan dengan fauna darat, berburu, memakan sumsum, mengumpulkan kerang, dan berjalan menyusuri sungai-sungai besar. Ini adalah temuan pertama manusia purba dari wilayah bawah laut Indonesia, yang sebelumnya hanya menyumbang situs daratan seperti Sangiran atau Trinil.

“Selama ini kita pikir Homo erectus cuma bertahan di Jawa Tengah. Tapi temuan ini menunjukkan mereka menjelajah lebih jauh,” kata Harold. Bahkan gaya hidup mereka menyerupai manusia purba modern dari Tiongkok, yang membuka kemungkinan adanya pertukaran budaya lintas wilayah Asia.

Bukan Hanya Kapal Karam

Penelitian ini dipublikasikan pada Mei 2025 dalam jurnal ilmiah Quaternary Environments and Humans. Bersama arkeolog maritim Griffith University, Shinatria Adhityatama, mereka menyerukan pentingnya pelibatan arkeolog dalam setiap proyek pembangunan nasional, terutama yang menyentuh wilayah laut atau pesisir.

“Arkeologi bawah laut itu bukan cuma soal kapal karam. Tapi juga tentang siapa kita di masa lalu,” ujar Shinatria.

Badan Geologi Kementerian ESDM, yang mengelola ribuan fosil temuan tersebut, menyatakan akan mendorong regulasi baru agar penemuan seperti ini bisa terlindungi dan ditindaklanjuti.

Sebanyak 5.160 fosil lainnya masih menunggu untuk diidentifikasi. Harold dan timnya mengajak peneliti dari berbagai institusi ikut bergabung, karena kemungkinan besar masih ada spesies-spesies baru yang tersembunyi.

Satu hal yang pasti: Indonesia kini punya "harta karun purba" baru di bawah lautnya, dan cerita tentang asal-usul manusia di Nusantara bisa jadi lebih kompleks, lebih tua, dan lebih luas dari yang pernah kita bayangkan.

“Kalau selama ini kita melihat laut sebagai batas, temuan ini menunjukkan laut justru menyimpan awal dari segalanya,” tutup Harold.

 

(Nur/Far)

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait