Mitos vs Fakta Vasektomi: Langkah Kecil, Dampak Besar untuk Keluarga
Selasa, 21 Oktober 2025
Pengunggah: Redaksi
Vasektomi merupakan metode kontrasepsi dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, mendekati nol persen kegagalan, aman serta bisa dipulihkan kembali dengan prosedur rekanalisasi meskipun berbiaya besar. Sejak awal diperkenalkan sebagai alat kontrasepsi pilihan pria, vasektomi saat ini masih minim diminati akibat berbagai mitos dan rumor yang berkembang.
Berdasarkan data Pemutakhiran Pendataan Keluarga tahun 2024 yang dilakukan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) menunjukkan bahwa keikutsertaan pria dalam program Keluarga Berencana (KB) masih sangat rendah. Hanya 2,45% pria yang menggunakan kondom dan 0,16% yang memilih vasektomi. Dari angka ini menunjukkan masih minimnya keterlibatan laki-laki dalam program KB yang selama ini lebih banyak dibebankan kepada perempuan.
Kemajuan yang hadir dalam ilmu kedokteran saat ini menghadirkan metode Vasektomi Tanpa Pisau (VTP). Jika sebelumnya vasektomi dilakukan dengan sayatan menggunakan pisau bedah, dengan metode VTP ini memungkinkan tindakan pengikatan serta pemotongan saluran vas deferens bisa dilakukan tanpa operasi terbuka. Metode ini semakin nyaman karena tingkat nyerinya yang sangat kecil.
“Bahkan ada akseptor vasektomi mengatakan, lebih terasa sakit saat disunat,” ungkap Dimas S. WIbisono, dokter spesialis urologi konsultan andrologi dari RS Nasional Diponegoro Semarang yang dikutip dari Tempo.co.
Vasektomi saat ini belum menjadi standar kompetensi dokter umum di Indonesia. Sebab itu, pelatihan akan menjadi langkah penting.
“Yang menjadi standar baru teorinya saja. Untuk pelaksanaannya belum, sehingga sangat diperlukan pelatihan,” tambah Dimas.
Dalam meningkatkan kompetensi tenaga medis, pada pertengahan Oktober 2025, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) mengadakan Pelatihan Vasektomi Tanpa Pisau (VTP) untuk Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Tahun 2025 di Semarang, Jawa Tengah.
Kegiatan kolaborasi BKKBN bersama United Nations Population Fund (UNFPA), Kementerian Kesehatan, Ikatan Ahli Urologi Indonesia, dan Balai Pelatihan Kesehatan Semarang. Tujuannya mendekatkan pelayanan KB pria kepada masyarakat secara luas dan memastikan hak atas layanan KB yang berkualitas untuk semua orang.
“Saya harap masyarakat dapat mempercayai bahwa dokter-dokter yang sudah melewati pelatihan ini, Insyaallah akan bisa melakukan pelayananan dengan profesional,” ucap Dimas yang menjadi tutor dalam pelatihan tersebut.
Menurut Dimas, rendahnya partisipasi pria dalam KB tidak sebanding dengan keunggulan vasektomi. Masyarakat berpikir bahwa kondom itu 100% aman. Padahal, amgka keberhasilan vasektomi sangat tinggi, hingga 100%. Sedangkan, kondom memiliki angka kegagalan 2-3% atau sering disebut ‘bocor’ oleh masyrakat.
Berbagai macam mitos yang keliru juga sering beredar. Misalnya, vasektomi dianggap dapat menurunkan libido atau bisa menyebabkan kanker prostat. Pada kenyataannya, vasektomi tidak ada hubungannya dengan hasrat seksual. Justru karena faktor psikologis dengan suami merasa istri tidak akan hamil, kepercayaan diri akan meningkat dan performa akan lebih baik. Sperma yang diproduksi akan diserap tubuh dan tidak menimbulkan masalah kesehatan.
Setelah melakukan operasi vasektomi, akseptor dianjurkan beristirahat selama 3-5 hari serta menghindari aktivitas berat selama sebulan. Hubungan seksual bisa dilakukan kembali setelah masa transisi 15-20 kali hubungan atau sekitar tiga bulan, sambil tetap menggunakan kondom sampai saluran sperma benar-benar bersih. Prosedur ini berlangsung 15-30 menit tanpa jahitan, cukup dengan plester.
Hal menarik yang ditemukan, ternyata vasektomi juga dapat dilakukan oleh penderita HIV/AIDS, diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung dengan pengawasan dokter. Pertanyaan umum masyarakat tentang vasektomi dan kebiri juga ditepis.
“Kebiri itu testisnya diangkat, sehingga laki-laki tidak bisa ereksi. Sedangkan vasektomi hanya memotong salurannya. Hormon tidak terganggu,” jelas Dimas. Ia berharap, biaya vasektomi dapat ditanggung pemerintah melalui BKKBN atau BPJS Kesehatan.
Program pelatihan vasektomi juga mendapat dukungan Kolegium Dokter. “Kolegium sangat mendukung program prioritas negara, salah satunya pelaksanaan tatalaksana vasektomi ini. Sertifikasi kompetensi tambahan ini menjadi bentuk komitmen agar pelaksanaan oleh dokter umum memiliki legalitas yang kuat,” ujar Rosa Maria Carli, Perwakilan Kolegium Dokter Indonesia.
Ia juga sangat mendorong pemerintah untuk bisa lebih gencar mensosialisasikan vasektomi kepada masyarakat, khususnya calon pengantin, sebagai pilihan kontrasepsi sukarela sesuai kebutuhan. Upaya ini sejalan dengan PP Nomor 87 Tahun 2014 dan Perpres Nomor 180 dan 181 Tahun 2024 yang mengatur pembangunan keluarga dan sistem informasi keluarga.
Penulis: Radhwa Larasati Tetuko
Editor: Tiara De Silvanita
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
Kesehatan - Sobat Youtz, belakangan ini di Indonesia sedang ramai perbincangan mengenai tokoh keagamaan umat Kato...
HealthSabtu, 07 September 2024
Kesehatan - Sobat youtz, baru aja kita selesai berperang melawan pandemi Covid-19, eh sekarang udah muncul lagi p...
HealthSenin, 02 Oktober 2023
Kesehatan - Aktivitas sehari-hari memang seringkali menyebabkan rasa bosan, burnout, dan apabila dibiarkan bisa m...
HealthSabtu, 09 Desember 2023
Kesehatan - Sebuah kisah tragis akibat mengonsumsi minuman favorit secara berlebihan dialami wanita bernama Amand...
HealthJumat, 30 Juni 2023
Kesehatan - Sobat Youtz, apakah pernah melihat Ibu sobat memasak? Tentu pernah bukan? Sayur, ikan, daging dan bu...
HealthKamis, 30 Mei 2024
Kesehatan - Pada bulan Ramadhan, makan saat sahur adalah kegiatan rutin bagi umat Muslim.Sahur sendiri merupakan ...
HealthSelasa, 26 Maret 2024
Kesehatan - Akhirnya BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) terhindar dari jerat hutang ratusan triliu...
HealthJumat, 21 Juli 2023
Kesehatan - Sobat youtz! Pernah dengar penyakit radang sendi? Dalam dunia medis, penyakit radang sendi dikenal d...
HealthJumat, 20 Oktober 2023
Kesehatan - Sobat youtz, baru-baru ini dunia kesehatan dihebohkan dengan masuknya bakteri Mycoplasma pneumoniae ...
HealthRabu, 13 Desember 2023
Kesehatan - Sobat Youtz, kamu sudah tahu belum, Indonesia jadi negara yang paling banyak konsumsi mikroplastik lo...
HealthSabtu, 22 Juni 2024