Ancaman Besar di Tapanuli, Peneliti Asing Ungkap Hal Ini!
Sabtu, 25 Oktober 2025
Pengunggah: Redaksi
Di tengah lebatnya hutan Sumatera Utara, lebih tepatnya di kawasan Batang Toru, hidup satu spesies kera besar yang nyaris tidak pernah tersentuh dunia luar - orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Tetapi kini kehidupan mereka berada di ambang di krisis.
Berdasarkan hasil riset terbaru dari IFL Science menjelaskan bahwa terdapat fakta mencemaskan - populasi orangutan Tapanuli kini diperkirakan tersisa sekitar 800 individu. Angka ini yang menjadikan mereka sebagai spesies kera besar paling terancam punah di dunia, bahkan dapat melampaui tingkat keterancaman sepupu mereka di Kalimantan dan Sumatera bagian utara.
Ironisnya spesies ini baru saja “dikenal dunia.” Pada tahun 2017, para peneliti mengungkapkan orangutan Tapanuli merupakan spesies yang berbeda dari dua jenis orang utan lainnya - Sumatera dan Kalimantan. Penemuan itu pernah menggugah satu harapan terkait adanya upaya konservasi secara besar-besaran untuk bisa melindungi mereka. Namun, harapan itu tampaknya belum dapat terwujud.
Sejak tahun 1985 hingga 2007, habitat orangutan Tapanuli di Batang Toru menurun hingga 60%. Laju kehilangan hutan terus meningkat, dipicu oleh alih fungsi lahan untuk perkebunan, proyek industri serta pembangunan infrastruktur. Tidak sedikit dari kawasan hutan yang dulu pernah menjadi rumah bagi orang utan, kini telah berubah menjadi wilayah tambang emas atau lahan produktif bagi manusia.
Ancaman lain datang dari pembangunan proyek bendungan besar di wilayah Batang Toru yang memotong kawasan penting habitat alami orang utan. Selain itu, perburuan liar dan perdagangan bayi orang utan menambah panjang daftar tekanan terhadap spesies ini. Karena hal tersebut, berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature), orang utan Tapanuli kini berstatus “Critically Endangered” - atau satu langkah sebelum punah di alam liar. Jika tidak ada upaya serius dalam penyelamatan, populasi mereka diprediksi menurun hingga 83% dalam tiga generasi ke depan.
Meski situasinya masih suram, ada sedikit kabar baik. Bulan lalu, peneliti dari Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (YOSL) menemukan individu orangutan Tapanuli hidup di hutan rawa sekitar 32 kilometer dari kawasan Batang Toru. Penemuan ini menunjukkan spesies tersebut masih berusaha beradaptasi dan mencari ruang hidup baru di luar habitat utamanya.
“Saat spesies diumumkan, tidak banyak perubahan yang terjadi. Tadinya orang berpikir kalau spesies baru orangutan akan mendorong dunia untuk secara beramai-ramai berusaha menyelamatkannya. Sayangnya, orang utan Tapanuli menghadapi ancaman yang sama seperti yang mereka hadapi pada tahun 2017,” ungkap Amanda Hurowitz dari Mighty Earth yang dikutip oleh IFL Science.
Setelah pengakuan resmi pada 2017, banyak pihak berharap konservasi orangutan Tapanuli akan menjadi prioritas nasional maupun internasional. Namun hingga kini, upaya perlindungan belum menunjukkan hasil signifikan. Pengawasan di lapangan masih lemah, dan konflik antara kebutuhan ekonomi dengan konservasi lingkungan belum menemukan titik temu.
Padahal, keberadaan orang utan Tapanuli mempunyai makna yang sangat penting bagi ekosistem hutan tropis Sumatera. Mereka merupakan penyebar biji alami, yang membantu menjaga keseimbangan dan regenerasi pohon di hutan. Hilangnya mereka bukan hanya kehilangan satu spesies, tapi juga mengganggu rantai kehidupan di seluruh ekosistem Batang Toru.
Kisah orangutan Tapanuli merupakan cermin nyata dari pertarungan antara pembangunan dan kelestarian alam. Beberapa tahun ke depan, dunia akan menyaksikan apakah manusia mampu menepati janji untuk menjaga warisan alam yang tersisa atau justru menyaksikan satu spesies besar terakhir dari Sumatra menghilang dari peta kehidupan. Jika langkah konservasi tak segera dipercepat, maka orang utan Tapanuli bisa menjadi catatan pilu berikutnya dalam sejarah satwa Indonesia hilang sebelum dunia sempat benar-benar mengenalnya.
Penulis : Radhwa Larasati Tetuko
Editor : Tiara De Silvanita
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
News - Ketika masyarakat berkumpul untuk menyuarakan pendapat mereka, hak dasar yang mereka miliki adalah untuk d...
NewsSelasa, 27 Agustus 2024
Integritas seorang atlet kerap diuji bukan hanya saat reli panjang di lapangan, tetapi justru dalam sunyi, ketika...
NewsSenin, 02 Maret 2026
Kenaikan harga biji kakao di tingkat pengepul membawa angin segar bagi petani di Kabupaten Lebak, Banten. Setelah...
NewsJumat, 15 Mei 2026
News – Art therapy atau terapi seni semakin mendapat perhatian sebagai metode efektif untuk membantu individu m...
NewsMinggu, 17 November 2024
News - Tidur siang di meja kerja biasanya dianggap hal sepele, tetapi bagi Zhang, seorang manajer di perusahaan k...
NewsSelasa, 26 November 2024
News – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah mengkaji pembatasan masa tinggal di rumah susun sewa (r...
NewsMinggu, 09 Februari 2025
News - Youtz Media sukses menyelenggarakan workshop kepenulisan bersama narasumber Wahyudi Pratama. Mengangkat t...
NewsMinggu, 06 Oktober 2024
Sengketa tanah yang terjadi di antara PT Hadji Kalla milik Jusuf Kalla (JK) dengan PT Gowa Makassar Tourism Devel...
NewsKamis, 20 November 2025
News - Youth Ranger Indonesia (YRI) kembali menggelar acara inspiratif bertajuk Indonesian Youth Festival: The Ro...
NewsKamis, 15 Agustus 2024
Praktik parkir yang diduga ilegal di kawasan POIN Square, Lebak Bulus, kembali memantik sorotan publik. Kali ini,...
NewsSelasa, 21 April 2026