Di Balik Konflik Habitat, Orangutan yang Tak Lagi Bisa Kembali ke Alam

Jumat, 15 Mei 2026

215

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Rambo, orangutan jantan yang tidak bisa dilepasliarkan, dirawat di pusat rehabilitasi orangutan Samboja Lestari, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Di sebuah pulau buatan di kawasan Samboja Lestari, Kalimantan Timur, seekor orangutan jantan bernama Rambo berjalan perlahan di atas tanah. Tubuhnya besar dengan bulu coklat kusut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Sekilas, ia tampak gagah. Namun, sorot matanya menyimpan jejak panjang penderitaan akibat ulah manusia.
Rambo bukan orangutan liar biasa. Selama bertahun-tahun, ia hidup sebagai hewan sirkus di Jakarta sebelum akhirnya disita pemerintah dan dibawa ke pusat rehabilitasi milik Yayasan Borneo Orangutan Survival. Meski telah dua dekade menjalani perawatan, naluri alaminya tak pernah benar-benar pulih.

Alih-alih bergelantungan di pepohonan seperti habitat aslinya, Rambo justru lebih sering berjalan dengan dua kaki—kebiasaan yang tertanam sejak dilatih menjadi tontonan manusia. Tubuhnya memang selamat, tetapi sebagian liarnya telah dirampas.

Kisah Rambo hanyalah satu dari puluhan tragedi yang dialami orangutan di Indonesia. Konflik habitat, perdagangan ilegal, perburuan, hingga praktik pemeliharaan satwa liar telah meninggalkan luka panjang yang tidak selalu bisa dipulihkan.

Di tempat yang sama, hidup pula Aluhdora, orangutan betina yang sejak kecil dipelihara warga di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Terlalu lama hidup bersama manusia membuat kemampuan bertahannya di alam perlahan hilang. Ia tak lagi memahami sepenuhnya cara mencari makan, menghindari ancaman, atau membangun kehidupan liar seperti seharusnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kerusakan terhadap satwa tidak selalu berbentuk luka fisik. Ada trauma perilaku yang jauh lebih sulit dipulihkan. Ketika manusia mengambil orangutan dari hutan, yang direnggut bukan hanya kebebasan mereka, tetapi juga masa depan ekologis yang melekat pada spesies tersebut.

Manager Regional Yayasan BOS Kalimantan Timur, Aldrianto Priadjati, menyebutkan bahwa dari 110 orangutan yang dirawat di Samboja Lestari, hanya sebagian kecil yang berpeluang kembali ke alam. Sisanya dikategorikan unreleasable atau tidak dapat dilepasliarkan.

Sebagian mengalami cacat akibat jerat dan perburuan. Ada yang pernah ditempatkan di kandang beraliran listrik. Beberapa lainnya mengidap penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) yang diduga tertular dari manusia saat dipelihara atau diperdagangkan.

Ironisnya, manusia bukan hanya merusak rumah mereka melalui pembukaan hutan dan ekspansi industri, tetapi juga membawa penyakit yang mengancam kelangsungan hidup satwa endemik tersebut.

Padahal, orangutan memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis. Sebagai umbrella species, keberadaan mereka membantu regenerasi hutan melalui penyebaran biji dari buah-buahan yang mereka konsumsi. Hilangnya orangutan dari alam berarti hilangnya salah satu penjaga utama keberlangsungan hutan.

Kerusakan habitat yang terus berlangsung membuat konflik manusia dan orangutan semakin sulit dihindari. Ketika hutan menyempit, orangutan kehilangan sumber makanan dan ruang hidup. Banyak dari mereka akhirnya masuk ke area perkebunan atau permukiman, lalu dianggap hama dan diburu.

Di sisi lain, upaya rehabilitasi membutuhkan waktu sangat panjang dan biaya besar. Orangutan yang diselamatkan harus mengikuti “sekolah hutan” untuk mempelajari kembali keterampilan dasar bertahan hidup. Namun, tidak semua berhasil.

Nasib Rambo menjadi pengingat bahwa tidak semua luka akibat eksploitasi satwa bisa disembuhkan. Ada orangutan yang mungkin tetap hidup, tetapi tak pernah benar-benar bisa kembali menjadi penghuni hutan seperti semula.

Pada akhirnya, persoalan orangutan bukan sekadar isu konservasi satwa liar. Ini adalah cermin relasi manusia dengan alam: tentang bagaimana kerakusan, hiburan, dan ekspansi terus mengorbankan kehidupan lain yang seharusnya dilindungi.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait