Freeport Indonesia Catat Penurunan Laba 2025, Penjualan Emas dan Tembaga Melemah

Kamis, 26 Maret 2026

905

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Tambang PT Freeport yang berlokasi di Granberg Papua

Kinerja PT Freeport Indonesia (PTFI) sepanjang 2025 mengalami tekanan yang tidak ringan. Laba bersih perusahaan tercatat anjlok hampir 40% menjadi US$2,52 miliar, turun dari US$4,13 miliar pada tahun sebelumnya. Penurunan tajam ini menegaskan bahwa sektor pertambangan tetap sangat rentan terhadap gangguan produksi, sekalipun harga komoditas sedang menguat.
Melemahnya laba berjalan seiring dengan penurunan pendapatan perusahaan yang hanya mencapai US$8,62 miliar, lebih rendah dibandingkan US$10,31 miliar pada 2024. Penurunan ini terutama dipicu oleh merosotnya penjualan dua komoditas utama: emas dan tembaga.

Pendapatan dari emas, baik dalam bentuk konsentrat maupun olahan, tercatat menurun cukup signifikan. Sementara itu, penjualan tembaga dalam bentuk konsentrat juga mengalami kontraksi dalam, diikuti penurunan pada produk turunannya seperti plat tembaga. Bahkan, komoditas perak dalam konsentrat hanya memberikan kontribusi yang relatif kecil.

Namun, persoalan Freeport tidak berhenti pada sisi pendapatan. Di tengah tekanan tersebut, beban penjualan justru meningkat menjadi US$4,71 miliar dari sebelumnya US$4,45 miliar. Kondisi ini mempersempit ruang keuntungan dan menekan laba kotor yang turun menjadi US$3,91 miliar. Laba usaha pun ikut tergerus menjadi US$3,78 miliar, mencerminkan tekanan menyeluruh pada kinerja operasional perusahaan.

Dampak penurunan ini turut menjalar pada kontribusi terhadap negara. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan bagian untuk pemerintah daerah sama-sama mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi kinerja korporasi tambang besar seperti Freeport tidak hanya berdampak pada internal perusahaan, tetapi juga pada ruang fiskal negara dan daerah.

Di balik penurunan kinerja finansial, faktor operasional menjadi kunci utama. Induk perusahaan, Freeport-McMoRan Inc. (FCX), mencatat bahwa produksi tembaga sepanjang 2025 turun drastis menjadi 1,01 miliar pon—merosot sekitar 44% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi emas bahkan anjlok hampir 50% menjadi 937.000 ons.

Penurunan ini dipicu oleh terhentinya operasi tambang bawah tanah di Grasberg Block Cave (GBC) sejak September 2025 akibat insiden banjir lumpur. Gangguan ini menjadi pengingat bahwa operasional tambang berisiko tinggi terhadap faktor teknis dan lingkungan, terutama ketika bergantung pada satu aset produksi utama.

Menariknya, di tengah penurunan volume produksi dan penjualan, harga komoditas justru menunjukkan tren kenaikan. Harga tembaga naik menjadi US$4,53 per pon, sementara harga emas melonjak tajam hingga US$3.418 per troy ons. Namun, kenaikan harga ini belum cukup untuk menutup kehilangan pendapatan akibat turunnya volume produksi.

Kondisi ini menegaskan bahwa dalam industri tambang, stabilitas produksi tetap menjadi faktor penentu utama. Harga yang tinggi tidak otomatis berbanding lurus dengan peningkatan laba jika pasokan terganggu.

Ke depan, pemulihan operasi di Grasberg menjadi kunci bagi perbaikan kinerja Freeport. Namun, tantangan yang dihadapi tidak hanya soal teknis, melainkan juga bagaimana perusahaan mampu memperkuat manajemen risiko, menjaga efisiensi biaya, serta mengantisipasi volatilitas global.

Penurunan kinerja Freeport Indonesia pada 2025 menjadi refleksi bahwa industri ekstraktif tidak hanya bergantung pada kekayaan sumber daya, tetapi juga pada ketahanan operasional dan strategi bisnis yang adaptif di tengah ketidakpastian.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait