Kementerian Lingkungan Hidup Siapkan Penegakan Hukum atas Pelanggaran Tata Kelola Sampah di TPST Bantargebang

Kamis, 30 April 2026

100

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bakal mempidanakan pelanggar tata kelola sampah di TPST Bantargebang

Komitmen pemerintah dalam membenahi tata kelola sampah kembali diuji. Peristiwa di TPST Bantargebang menjadi titik krusial yang mendorong Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan langkah tegas: penegakan hukum tidak lagi sekadar opsi, melainkan keharusan.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang menyimpang dari ketentuan tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga berpotensi menciptakan dampak serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran pemerintah bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu teknis, melainkan persoalan struktural yang selama ini kerap diabaikan.

Penegakan hukum yang disiapkan KLH/BPLH juga mengindikasikan adanya evaluasi terhadap pendekatan sebelumnya. Selama ini, pemerintah mengedepankan pembinaan, pengawasan, dan sanksi administratif. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pendekatan tersebut belum cukup efektif menekan pelanggaran, terutama di fasilitas besar seperti TPST Bantargebang yang menjadi tulang punggung pengelolaan sampah ibu kota.

Langkah hukum ini semakin signifikan dengan ditetapkannya tersangka dalam kasus tersebut, yakni mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta berinisial AK. Penetapan ini membuka babak baru dalam penanganan persoalan sampah, di mana akuntabilitas tidak hanya berhenti pada sistem, tetapi juga menyasar individu yang memiliki kewenangan.

Meski demikian, langkah ini memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah penegakan hukum semata cukup untuk menyelesaikan persoalan tata kelola sampah yang kompleks? Tanpa pembenahan sistemik—mulai dari perencanaan, transparansi anggaran, hingga pengawasan berlapis—penindakan berisiko hanya menjadi respons reaktif, bukan solusi berkelanjutan.

TPST Bantargebang sendiri selama bertahun-tahun telah menjadi simbol ambivalensi pengelolaan sampah di Indonesia: di satu sisi menjadi solusi penampungan, di sisi lain menyimpan berbagai persoalan mulai dari kapasitas berlebih hingga potensi pencemaran. Peristiwa terbaru ini seharusnya menjadi momentum untuk tidak hanya menindak pelanggaran, tetapi juga merombak paradigma pengelolaan sampah secara menyeluruh.

Dengan langkah penegakan hukum yang disiapkan, publik kini menanti konsistensi pemerintah. Sebab, tanpa keberlanjutan dan transparansi, komitmen tegas berisiko menjadi sekadar pernyataan—bukan perubahan nyata.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait