Trump Batal Jadi Nominator Nobel Perdamaian Setelah Serang Iran Secara Tiba-tiba

Senin, 23 Juni 2025

2840

Pengunggah: Shahnaz Mazdhatul Rahmania

gambar-utama
Foto: Donald Trump (Ini Koran).

News - Presiden Amerika Serikat (As), Donald Trump batal diusulkan oleh Pakistan masuk nominasi Nobel Perdamai usai lancarkan serangan terhadap Iran.

Bagaimana tidak, AS bikin geger dunia di bawah komando Donald Trump, negeri Paman Sam itu menyerang tiga fasilitas nuklir milik Iran pada Minggu (22/6/2025).

Tempat yang jadi target adalah Fordow, Natanz, dan Isfahan, tiga lokasi yang dikenal strategis dalam pengembangan nuklir Iran.

Bahkan Trump mengklaim aksinya itu sukses menyerang lewat platform Truth Social miliknya.

"Kami telah menyelesaikan serangan yang sangat sukses terhadap tiga lokasi nuklir di Iran... Semua pesawat kini berada di luar wilayah udara Iran," tulisnya.

Serangan tersebut datang di tengah memanasnya tensi antara Iran dan Israel dalam beberapa hari terakhir. Tapi yang bikin publik tambah bingung, sehari sebelum serangan ini, nama Trump justru diajukan jadi nominasi peraih Hadiah Nobel Perdamaian oleh pemerintah Pakistan.

Dalam usulannya, Pakistan menilai Trump telah menunjukkan kepemimpinan yang krusial dalam meredakan konflik bersenjata antara India dan Pakistan awal tahun ini.

Lewat intervensi diplomatik AS, kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata pada 8 Mei, setelah sebelumnya sempat terlibat bentrokan terburuk sejak 1971.

“Trump telah menunjukkan kenegarawanan luar biasa dalam mencegah krisis besar antara dua negara nuklir,” tulis pemerintah Pakistan dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNN.

Bahkan, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, sampai menyampaikan ucapan terima kasih kepada Trump secara terbuka di media sosial. Katanya, Trump “berperan aktif menjaga stabilitas kawasan.”

Namun, aksi militer Trump ke Iran bikin banyak tokoh publik Pakistan geram. Pemerintah Pakistan sendiri yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Iran langsung mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan Statuta IAEA (Badan Energi Atom Internasional).

Pakistan juga meminta semua pihak agar memilih jalur diplomasi. Pernyataan tersebut seakan-akan menampar balik keputusan mereka sendiri yang baru saja menominasikan Trump untuk Nobel Perdamaian.

Maleeha Lodhi, eks Dubes Pakistan untuk AS, menyebut pemerintahnya seharusnya merasa malu.

“Langkah mereka mendukung Trump adalah keputusan yang tidak masuk akal,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Senator Pakistan, Allama Raja Nasir, bahkan menyebut pencalonan itu sebagai “langkah tidak etis.” Ia menegaskan kembali bahwa mendukung tindakan militer sembari menyebutnya bagian dari misi perdamaian adalah kontradiksi yang sangat mengganggu.

Di sisi lain, Trump tetap percaya bahwa ia layak diakui sebagai pembawa damai. Dalam unggahannya yang lain, ia menyebut tak akan pernah diberi Hadiah Nobel meski sudah menghentikan konflik India-Pakistan, Serbia-Kosovo, bahkan Mesir-Ethiopia.

Padahal, menurut Alfred Nobel sendiri, penghargaan ini diperuntukkan bagi mereka yang berhasil mendorong persaudaraan antar-bangsa, mengurangi kekuatan militer, dan mempromosikan dialog.

Kini, setelah ledakan di Iran dan ledakan kritik dari banyak pihak, status pencalonan Trump masih menggantung. Pemerintah Pakistan belum mencabut, tapi juga belum bersuara lagi.

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait