Evaluasi Operasional, Koperasi Merah Putih Blok M Masih Hadapi Tantangan Keuangan

Kamis, 26 Maret 2026

760

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Kegiatan yang berlangsung di Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai di area basement Blok M Hub, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Sore hari di kawasan Blok M Hub, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, selalu menghadirkan denyut khas anak muda yang menjadikan ruang ini sebagai titik temu, tempat singgah, sekaligus destinasi kuliner. Di tengah ramainya tenant modern, sebuah ruang ritel sederhana hadir membawa semangat berbeda—ekonomi gotong royong melalui Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Melawai.
Terletak di sudut basement, koperasi ini memang tidak langsung mencuri perhatian. Namun papan merah-putih besar dengan identitas koperasi serta visual Prabowo Subianto menjadi penanda keberadaannya. Di dalam, suasana menyerupai minimarket kecil dengan rak-rak berisi kebutuhan pokok, produk kemasan, hingga hasil UMKM.

Sebagai bagian dari program nasional yang diinisiasi pemerintah, KKMP Melawai didesain sebagai proyek percontohan di DKI Jakarta sejak diresmikan pada 21 Juni 2025. Menariknya, koperasi ini memulai operasional tanpa modal awal, dengan dukungan pasokan barang dari BUMN dan BUMD melalui skema konsinyasi.

“Barang-barang disuplai oleh stakeholder seperti Pasar Jaya, Dharma Jaya, dan Pertamina. Sistemnya konsinyasi, jadi koperasi tidak mengeluarkan modal di awal,” ujar Ketua KKMP Melawai, Paiman.

Selain itu, koperasi juga membuka ruang bagi produk UMKM melalui wadah distribusi khusus, mencerminkan upaya inklusivitas dalam ekosistem ekonomi lokal.

Namun, di balik konsep ideal tersebut, realitas operasional menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Dalam tujuh bulan berjalan, koperasi ini masih mencatatkan kondisi keuangan yang belum stabil.

“Secara laporan keuangan, kita masih minus,” ungkap Paiman.

Harga barang yang sedikit lebih murah dibanding pasar—dengan selisih sekitar Rp200 hingga Rp500—ternyata belum cukup menjadi daya tarik utama bagi konsumen. Faktor lokasi menjadi salah satu kendala krusial. Posisi koperasi yang berada di basement membuat visibilitasnya terbatas, bahkan di tengah tingginya mobilitas pengunjung Blok M Hub.

Selain itu, koperasi juga harus berhadapan langsung dengan jaringan ritel besar yang sudah lebih dulu mapan, baik dari segi brand awareness, kelengkapan produk, hingga kenyamanan akses.

Dari sisi sumber daya manusia, operasional koperasi juga belum optimal. Meski memiliki lima pengurus, hanya dua orang yang aktif menjalankan kegiatan harian. Kondisi ini turut memengaruhi efektivitas pengelolaan dan pengembangan usaha.

Situasi tersebut menjadi catatan penting dalam evaluasi model koperasi modern yang diharapkan mampu bersaing di ruang urban. Dukungan pemerintah dan BUMN memang memberikan fondasi awal, tetapi keberlanjutan usaha tetap bergantung pada daya saing, strategi pemasaran, serta kemampuan beradaptasi dengan perilaku konsumen.

Di tengah geliat ekonomi perkotaan yang semakin kompetitif, KKMP Melawai menghadapi ujian nyata: bagaimana mengubah semangat gotong royong menjadi model bisnis yang tidak hanya ideal secara konsep, tetapi juga berkelanjutan secara finansial.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait