Usai Diangkut dan Muncul Lagi, Tumpukkan Sampah di Pasar-Pasar Tangsel Hanya Berpindah Lokasi

Minggu, 18 Januari 2026

1025

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber: kompas.com

Upaya pembersihan tumpukan sampah di sejumlah pasar tradisional di Kota Tangerang Selatan sempat memberi harapan. Gunungan sampah yang sebelumnya mengotori Pasar Ciputat, Pasar Cimanggis, dan Pasar Jombang akhirnya diangkut seluruhnya oleh petugas kebersihan. Bau menyengat menghilang, belatung tidak lagi tampak, dan spanduk larangan membuang sampah sembarangan berdiri mencolok di area pasar.

Namun, harapan itu ternyata tak bertahan lama. Alih-alih benar-benar hilang, persoalan sampah justru bergeser ke titik-titik lain yang letaknya hanya selemparan batu dari lokasi semula. Pada hari Kamis (15/1/2026), menunjukkan tumpukan sampah baru mulai muncul di kolong Flyover Ciputat hingga trotoar Jalan Otista Raya, tidak jauh dari Pasar Cimanggis.

Sampah-sampah itu kini menempel di ruang publik yang lebih sempit dan berisiko, bahkan berada dekat badan jalan yang rusak akibat genangan air tak kunjung surut. Bau tak sedap kembali tercium, belatung pun kembali bermunculan.

Di balik spanduk larangan dan tenda putih pos penjagaan yang didirikan pemerintah, pengawasan di lapangan nyatanya belum berjalan optimal. Petugas jarang terlihat berjaga, membuat warga bebas membuang sampah di titik-titik baru tanpa rasa khawatir.

Petugas kebersihan Pasar Cimanggis, Udin (70), menyebut tumpukan sampah yang kini berserakan sebagian besar bukan berasal dari aktivitas pedagang pasar. Menurutnya, warga dari luar kawasan memanfaatkan ruang terbuka di pinggir jalan sebagai tempat pembuangan alternatif setelah lokasi lama ditutup.

“Harusnya mah ditaro di bak sampah. Tapi karena tempat kemarin ditutup, orang-orang jadi buangnya sembarangan di jalan. Itu sampah bukan dari pasar, dari mana-mana aja datangnya,” ujar Udin yang dikutip dari kompas.com

Situasi kian berat pada malam hari. Sampah datang tanpa jeda, sementara penjagaan nyaris tak ada. Udin mengaku dilema saat mencoba menertibkan. Niat merapikan justru bisa disalahartikan.

“Kalau kita jaga pas siang, nanti disangkanya kita pungli. Padahal kita mau rapihin. Ya sudah saya diemin aja,” katanya pasrah.

Di sisi lain, pedagang Pasar Cimanggis, Sodikin (51), melihat akar persoalan bukan sekadar soal pengangkutan, melainkan absennya sistem pembuangan yang memadai. Ia menilai tidak adanya tempat pembuangan sementara (TPS) membuat warga tak punya pilihan selain membuang sampah di sembarang titik.

“Habis dibersihin, nanti numpuk lagi. Soalnya pembuangannya enggak ada. Orang jadi buangnya di mana-mana,” kata Sodikin.

Masalah sampah juga bersinggungan dengan buruknya sistem drainase. Saluran air yang tersumbat membuat genangan selalu muncul saat hujan, mempercepat kerusakan jalan, dan memperburuk kondisi lingkungan sekitar pasar.

“Saluran airnya enggak ada. Makanya kalau hujan ya banjir. Jalan jadi rusak,” ujarnya.

Warga pun berharap Pemerintah Kota Tangerang Selatan tak sekadar hadir saat sampah sudah menggunung. Mereka menginginkan solusi permanen—mulai dari penyediaan TPS yang layak, sistem pengawasan yang konsisten, hingga ketegasan aturan.

“Harusnya pemerintah turun langsung lihat kondisi. Biar tahu masalahnya apa. Jangan cuma angkut, tapi enggak disiapin tempat pembuangannya,” kata Sodikin.

Tanpa penataan menyeluruh, tumpukan sampah di pasar-pasar Tangsel tampaknya hanya akan terus berpindah—menunggu lokasi baru sebelum kembali menjadi persoalan lama.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait