Limbah Program MBG Jadi Perhatian, Peneliti BRIN Dorong Solusi Inovatif

Selasa, 12 Mei 2026

130

Pengunggah: Redaksi

gambar-utama
Sumber gambar: Pekerja yang menyiapkan pakan maggot dari limbah sisa Makan Bergizi Gratis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Keraton Solo, Tamansari, Kabupaten Bogor, J

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperbaiki kualitas gizi masyarakat kini menghadapi tantangan baru: persoalan limbah pangan. Di tengah besarnya skala distribusi makanan, potensi timbulan sampah organik dari program tersebut dinilai tidak bisa dipandang sebelah mata.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan dan Gizi Masyarakat Badan Riset dan Inovasi Nasional, Basuki Rachmat, menilai pengelolaan limbah pangan MBG harus segera dipersiapkan secara serius agar tidak berubah menjadi persoalan lingkungan baru di masa mendatang.

Basuki menawarkan sejumlah solusi inovatif berbasis teknologi untuk mengolah limbah makanan menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Menurutnya, teknologi seperti pirolisis, gasifikasi, pencernaan anaerobik, hingga hidrotermal karbonisasi mampu mengubah limbah organik menjadi biogas, biochar, bahkan energi listrik.

Ia menekankan bahwa pendekatan pengelolaan limbah tidak selalu harus bergantung pada teknologi berskala besar. Untuk wilayah dengan kapasitas terbatas, metode sederhana seperti komposting, penggunaan bioaktivator, hingga pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) dinilai tetap efektif dan lebih mudah diterapkan.

“Pengolahan limbah organik dapat dilakukan melalui komposting, penggunaan bioaktivator, maupun pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mengubah limbah menjadi pakan ternak dan pupuk,” ujar Basuki dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, setiap metode memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda. Karena itu, pemilihan teknologi harus disesuaikan dengan skala produksi limbah, jenis sampah organik, serta sumber daya yang tersedia di masing-masing daerah.

Persoalan limbah pangan sendiri menjadi isu krusial di Indonesia. Basuki mengungkapkan produksi limbah pangan nasional mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun. Sebagian besar berasal dari rumah tangga dan berdampak langsung terhadap lingkungan, ekonomi, hingga aspek sosial masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa program sebesar MBG tidak cukup hanya fokus pada distribusi makanan dan pemenuhan gizi. Tanpa sistem pengelolaan limbah yang matang, sisa makanan berpotensi memperbesar emisi gas rumah kaca serta menambah beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Basuki menilai pendekatan ekonomi sirkular perlu diterapkan dalam pengelolaan limbah MBG. Prinsip reduce, reuse, recycle, dan recover harus menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program agar sisa pangan tidak berakhir sia-sia.

“Dengan pengelolaan yang tepat, limbah pangan dapat diubah menjadi energi atau pupuk, sekaligus menekan emisi dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya,” katanya.

Dorongan BRIN ini memperlihatkan bahwa keberhasilan Program MBG bukan hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga dari bagaimana negara mampu memastikan dampak lingkungan tetap terkendali. Di tengah ambisi besar pembangunan sumber daya manusia, pengelolaan limbah pangan menjadi ujian penting bagi keberlanjutan program tersebut.

Penulis : Radhwa Larasati Tetuko

Editor : Tiara De Silvanita

Tags

tag_fill_round [#1176] Created with Sketch.

Berita terkait