PHK di Meta Picu Sorotan, Investasi AI Jadi Alasan Utama
Selasa, 05 Mei 2026
Pengunggah: Redaksi
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam raksasa teknologi Meta. Kali ini, sekitar 8.000 karyawan—setara 10% dari total tenaga kerja—terancam kehilangan pekerjaan. Di balik keputusan tersebut, CEO Mark Zuckerberg secara terbuka mengaitkannya dengan lonjakan investasi perusahaan di bidang kecerdasan buatan (AI).
Dalam pertemuan internal, Zuckerberg menegaskan bahwa perusahaan tengah menghadapi dilema klasik: keterbatasan sumber daya. Ia menyebut dua pos pengeluaran utama Meta adalah infrastruktur komputasi dan sumber daya manusia. Ketika investasi di AI dan infrastruktur meningkat, ruang untuk mempertahankan jumlah karyawan pun menyempit. Logika efisiensi ini, bagi sebagian pihak, terasa dingin—terutama bagi ribuan pekerja yang terdampak.
Namun, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya meredam kekhawatiran internal. Di tengah dorongan agresif untuk mempercepat pengembangan AI, Meta juga mulai melacak aktivitas karyawan—mulai dari klik hingga cara mereka menavigasi aplikasi. Langkah ini diklaim sebagai bagian dari pelatihan sistem AI, tetapi di sisi lain memicu kritik soal privasi dan kontrol perusahaan terhadap pekerja.
Zuckerberg mencoba menarik garis tegas: PHK, katanya, bukan akibat langsung dari penggunaan AI oleh karyawan atau dorongan otomatisasi kerja. Tetapi di mata publik dan internal perusahaan, batas itu tampak kabur. Ketika AI menjadi prioritas investasi, efisiensi tenaga kerja hampir tak terhindarkan menjadi konsekuensi.
Ketidakpastian pun masih membayangi. Zuckerberg tidak menutup kemungkinan adanya gelombang PHK lanjutan, seraya mengakui bahwa masa depan industri teknologi—terutama dalam tiga tahun ke depan—sulit diprediksi. Pernyataan senada juga disampaikan CFO Susan Li, yang menyebut ukuran ideal perusahaan di masa depan belum dapat ditentukan.
Ini bukan kali pertama Meta melakukan perampingan besar. Setelah memangkas 11.000 karyawan pada 2022 dan 10.000 lainnya tak lama kemudian, langkah terbaru ini menegaskan pola yang semakin jelas: transformasi menuju perusahaan berbasis AI membawa konsekuensi sosial yang nyata.
Di tengah euforia AI yang menjanjikan efisiensi dan inovasi, kasus Meta menjadi pengingat bahwa transformasi digital tidak selalu netral. Ada harga yang harus dibayar—dan dalam banyak kasus, pekerja berada di garis depan dampaknya.
Penulis : Radhwa Larasati Tetuko
Editor : Tiara De Silvanita
Tags
Berita Populer
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
Berita terkait
News - Seorang Taruna tewas dikarenakan dianiaya oleh seorang oknum seniornya mengakibatkan sejumlah pejabat term...
NewsKamis, 09 Mei 2024
News - Ribuan warga Perumahan Mangun Jaya Indah 2, Desa Mekarsari, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, masih kesuli...
NewsRabu, 14 Mei 2025
Jakarta - sejumlah mahasiswa mengaku ilmu yang didapatkannya selama mengeyam pendidikan di bangku kuliah ...
NewsSabtu, 15 Juli 2023
Puluhan tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu sebuah perubahan, terlebih ketika yang dipertaruhkan adalah...
NewsSabtu, 25 April 2026
News – Seorang pemuda asal Aceh berinisal AU (24) viral di media sosial karena aksinya yang nekat melakukan per...
NewsSelasa, 30 Juli 2024
News - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), Retno Marsudi mempertegas dan menyerukan multilateralis...
NewsSabtu, 12 Oktober 2024
News - Kepolisian Himachal Pradesh di India berhasil mengevakuasi sekitar 8.000 wisatawan dan 1.500 kendaraan yan...
NewsJumat, 03 Januari 2025
News – Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan untuk melakukan pemungutan suara ulang (PSU) untuk Pemilihan Gubernu...
NewsKamis, 06 Maret 2025
News - Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman memilih meninggalkan ruang sidang saat pembacaan putusan sela s...
NewsSelasa, 04 Februari 2025
News - Pemerintah Indonesia menyatakan sikap tegas mengecam serangan militer Israel ke ibu kota Iran, Teheran, ya...
NewsJumat, 13 Juni 2025